| Kaidah-kaidah Dan Rambu-rambu Beriman kepada Malaikat |
| Ditulis oleh Ahmad Mudzoffar Jufri, MA | |
|
Tentu kita semua sudah tahu bahwa beriman kepada para malaikat Allah merupakan satu diantara enam rukun iman. Namun, bagaimana kita mesti mengimani para malaikat tersebut? Berikut ini beberapa kaidah dan rambu-rambunya. Pertama, iman kepada malaikat merupakan salah satu prinsip dan rukun iman dalam Islam, berdasarkan Al-Qur’an (QS Al-Baqarah (2) : 177, 285; QS An-Nisa’ (4) : 136), As-Sunnah (Hadits Jibril riwayat Muslim) dan Ijma’. Kedua, beriman kepada malaikat secara benar berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan sesuai dengan pemahaman baku para ulama salaf. Ketiga, malaikat adalah makhluq dan hamba Allah yang termasuk alam ghaib. Maka penyikapan terhadapnya haruslah sesuai dengan kaidah-kaidah dasar penyikapan terhadap alam ghaib pada umumnya. Misalnya : harus berdasarkan wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan tidak mengedepankan atau mendominankan akal dan logika. Keempat, malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia, yang diciptakan oleh Allah Ta’ala murni untuk kebaikan dan ketaatan, sebalik dari Iblis dan Syetan yang diciptakan murni untuk kejahatan dan pembangkangan! Tentu semua itu berdasarkan hikmah-hikmah yang sempurna dan agung. Maka kita harus mengimani malaikat sebagai simbol kebaikan dan parameter kebenaran. Dan oleh karenanya, kita wajib mencintai mereka semuanya, berwala’ dan berpihak kepada mereka serta melakukan hal-hal yang mengundang kehadiran mereka, menyebabkan keridhaan mereka dan mendatangkan doa mereka. Disamping tentu kita harus waspada dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa mengganggu mereka dan menimbulkan kebencian dan laknat mereka. Kelima, malaikat adalah bagian dari tentara-tentara dan utusan-utusan Allah, yang hanya patuh dan tunduk kepada Allah semata. Maka tidak ada seorangpun – bahkan rasul sekalipun – yang berkuasa atas malaikat, apalagi sampai memiliki khadam (pelayan dan pembantu tetap) dari kalangan mereka, sebagaimana persepsi salah dan menyimpang sebagian kalangan! Keenam, keimanan dan pemahaman kita tentang alam malaikat haruslah proporsional, antara yang bersifat umum dan global dan yang bersifat rinci dan detail, baik tentang nama-nama, macam-macam, sifat-sifat, tugas-tugas mereka dan lain-lain. Demikian pula (harus proporsional) antara iman yang bersifat teoritis dan yang bersifat praktis. Dan iman secara praktis harus lebih diutamakan, misalnya dengan memperhatikan dan menekankan pada aspek hikmah, fungsi, aplikasi dan pengaruh dari iman kepada malaikat tersebut dalam diri dan kehidupan kita di dunia ini. Ketujuh, waspada dan menghindarkan diri dari berbagai penyimpangan yang terjadi tentang malaikat, seperti :
Wallahu a’lam bishshawab. |
| < Sebelumnya | Sesudahnya > |
|---|
