Sehatkah Pernikahanku

Pernikahan & Keluarga, 14 Januari 2023

Pertanyaan:

Saya seorang pekerja dan menikah dengan duda cerai yang memiliki 2 anak dan saat ini tinggal dengan ibu kandungnya, beliau tidak memiliki pekerjaan, saya yang menghantarkannya memiliki pekerjaan di tempat guru saya agar meyakinkan orangtua yang saat itu tidak setuju untuk menikah dengannya. Namun saat ini sudah tidak memiliki pekerjaan lagi, saya selalu mengeluarkan modal untuk mencoba usaha, namun belum berhasil . Alasan saya mau menikah dengannya karena taat pada guru. Saya hanya mengenal 1 bulan dan komunikasi via wa dan langsung menikah dimana dia tidak memiliki sepeserpun. Akhirnya semua persiapan saya dan keluarga yang urus. Di usia 4 tahun pernikahan ini kami memiliki 2 balita. Satu selama menjalankan pernikahan, saya tidak diberi nafkah lahir dan saya yg berinfak untuk menghidupi keluarga, jalan 2 tahun pernikahan orangtua yang tinggal bersama saya meninggal dunia, sehingga saat ini saya hanya tinggal dengan keluarga kecil saya ini. 

Suami saya sebetulnya penyayang keluarga khususnua anak2nya. Dia senantiasa membantu pekerjaan sehari2 saya, terutama memandikan anak. Namun, suami saya sangat kurang bagus dalam kehidupan sosial luar, dia tidak suka saya terlalu dekat dengan kakak2 saya, dan bahkan memusuhi dengan alasan pernah sakit hati. Ketika bersosialisasi atau bergabung dalam tim, dia tidak pernah awet, dan selalu berakhir kurang baik, tipe yang kurang suka diberi nasihat, dan kurang bisa berkorban terutama untuk menurunkan egonya. Selama pernikahan saya sangat jarang mengobrol bertukar pikiran atau lainnya karena selalu berakhir kurang nyaman dimana dia yang lebih dominan untuk berbicara mengeluarkan isi pikirannya yang seringnya belum sesuai dengan isi pilkiranku. Akhirnya saya memilih diam dan tidak pernah ada solusi setiap ada persoalan. 

Saya sangat bingung hanya bisa mengadu kepada Allah, namun dalam hati saya sangat kurang nyaman, sehatkah pernikahan ini? Apa yang harus saya lakukan? 



-- Nena Fara (Bekasi)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Dalam kehidupan berkeluarga, suami dan isteri selalu dihadapkan pada sisi positif dan negatif pasangannya. Semua oranng menginginkan pasangan yang ideal sesuai dengan yang dia bayangkan dan inginkan. Akan tetapi, harapan dan keinginan seperti itu tidak selalu diperoleh dari pasangannya.

Ketika Allah mentakdirkan sesorang menjadi pasangan hidupnya, maka apa yang Allah takdirkan dan tentukan itu pasti yang terbaik, walaupun hal itu tidak menyenangkan bagi yang menjalaninya. Keyakinan bahwa ketentuan Allah adalah yang terbaik inilah yang menjadikan sesorang ridla dengan ketentuan Allah, dan mau mensyukurinya dengan baik. Syukur merupakan salah satu pintu bertambahnya nikmat. Dengan mensyukuri nikmat Allah, maka nikmat lain akan ditambahkan. Dengan mengkufuri nikmat Allah, maka nikmat akan diganti dengan adzab. Allah swt berfimran:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim:7)

Semoga rasa syukur atas kemampuan anda menafkahi keluarga,membuat suami anda lebih berdaya secara ekonomi dimasa yang akan datang. Semoga dengan mensyukuri kebaikan suami anda kepada anak-anak, membuat dia mampu menyayangi orang lain.

Teruslah mempertahankan keluarga anda dengan sabar dan rasa syukur. Kedua sikap itu merupakan sikap seorang mukmin sejati. Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  Ø¥ÙÙ†Ù’ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya (HR. Muslim)

Semoga dengan kesabaran anda menghadapi suami anda, dan sikap syukur atas kelebihan yang Allah anugerahkan kepada Anda, menjadi sebab keluarga anda menjadi lebih baik dimasa yang akan datang. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc