Suami Susah Jujur

Pernikahan & Keluarga, 15 Januari 2025

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullah wabarokatuh

Perkenalkan saya ibu dengan 1 anak usia 1,5 tahun. Begini pak ustadz, saya dan suami sudah menjalani rumah tangga sekitar 4 tahunan. Selama 4 tahun ini kami tinggal berdampingan dengan orang tua saya. Selama pernikahan kami, memang saya tidak pernah bertanya secara detail soal gaji suami dan semua gaji suami yang pegang ya suami. Saya kalau butuh beli apa nanti dia yg belikan. 2 Tahun terakhir ini memang saya tidak bekerja karna hamil dan setelah melahirkan urus anak dirumah karna suami tidak mengijinkan saya bekerja. Suami juga tidak pernah kasar ataupun berselingkuh. Nah selama 2 tahun terakhir ini pula rumah tangga kami diuji dg masalah terus menerus. 2 Tahun ini saya dan anak dibantu orang tua saya untuk sehari2 karna uang yang diberi suami saya tidak cukup. Orang tua saya pun memberikan kesempatan kpd suami saya untuk benar2 menyelesaikan masalahnya dan untuk saya dan anak biar orang tua saya yang menanggung sementara sampai semua orang tadi beres. Suami saya bekerja dan mendapatkan gaji. Tetapi suami juga seringkali menipu orang untuk mendapatkan uang. Setiap kali saya tanya uangnya untuk apa selalu menjawab untuk orang tuanya, bayar hutang, untuk kebutuhan dia yg mendesak krn uang gaji habis untuk rumah tangga. Pertama kami harus kehilangan 2 motor untuk mengganti uang orang yg suami saya tipu. Yang ke 2 orang tuanya yang bantu bayar. Awal 2024 suami saya menipu orang dan berjanji akan berusaha nyicil dan orang tersebut mengiyakan. Kemudian bulan oktober kmrn ada lagi orang datang kerumah orang tua saya krn suami menipu mereka. Dan awal tahun ini suami saya menipu orang lagi sampai motor orang tua saya jadi jaminan sampai selesai. Saya sudah memberi kesempatan suami saya sampai 5x agar berusaha untuk berubah. Saya selalu bilang sekurang-kurangnya uang jangan sampai menipu orang. Dan kali ini orang tua saya meminta saya dan suami bercerai. Dan 2 hari ini saya dan suami sudah pisah rumah. Suami saya pasrahkan ke orang tuanya. Tapi suami tidak mau kalau harus pisah dengan saya dan anak. Dia akan berusaha berubah bilangnya seperti itu. Tapi saya jujur masih sulit untuk percaya karena selama ini saya berusaha meyakinkan kedua orang tuanya bhwa suami saya akan berubah. Tapi pada kenyataannya suami saya terus mengulang kesalahannya. Kemudian saya bilang ke suami supaya jika memang dia mau memperbaiki rumah tangga kami, saya meminta dia membawa walinya untuk bisa membantu mendamaikan kami dan juga meyakinkan orang tua saya. Saya sudah sholat taubat dan tahajud agar suami saya mau berubah pak ustadz tapi belum berhasil. Apakah yang saya lakukan sudah benar pak ustadz? Atau memang saya harus menuruti orang tua saya untuk bercerai agar saya dan anak tidak menerus terlibat masalahnya? Jujur saya masih ingin mempertahankan rumah tangga kami tapi saya juga masih takut apakah suami saya akan berubah atau masih sama

Mohon penjelasannya pak ustadz dari segi agama islam baiknya apa yang harus saya lakukan dan seperti apa langkah yang tepat untuk masalah kami ini

Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh?



-- Vita Irawati (Surakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Standart utama kebaikan pasangan hidup adalah baiknya agama. Keshalihannya secara perilaku dan ketaatannya dalam beribadah. Karena agamalah yang menjadi dasar semua perilaku manusia. Jika agamanya baik, maka kekurangan harta tidak membuatnya gelap mata mencari harta dengan cara haram. Dengan baiknya agama, tidak akan membuatnya berkhianat. Dan dengan baiknya agama, tidak akan mengulang-ulang kesalahan yang pernah dilakukannya.

Kebaikan agama seseorang tidak hanya diukur dari ketaatannya beribadah. Tetapi kebaikan agama juga diukur dari perilaku kesehariannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdusta adalah pangkal segala dosa. Jika seseorang berani berdusta,maka dia akan berani berbuat dosa yang lain. kebalikan dari dusta adalah jujur, jujur adalah pangkal segala kebaikan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang dibawakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, bersabda :

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ(وفى رواية لمسلم: إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ)  حَتَّى يَكُوْنَ صِدِّيْقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ(وفى رواية لمسلم: وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ) حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً. رواه البخاري ومسلم

Sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur, sampai akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar jujur. Dan sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar tertetapkan di sisi Allâh sebagai pendusta. (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang anda lakukan dengan melibatkan keluarga besar suami dan keluarga besar anda untuk menyelesaikan masalah yang anda hadapi sudah tepat. Saran dan nasehat dari keluarga besar patut didengar semuanya. Keluarga besar anda menginginkan kebaikan untuk anda, dan keluarga besar suami pasti juga menginginkan kebaikan untuk anaknya.

Sekarang keputusan ada di tangan anda. Anda yang akan menanggung semua resiko dari keputusan anda. Orang lain hanya bisa memberi saran. Selanjutnya mereka juga tidak akan peduli dengan keputusan apa yang akan anda ambil dengan segala resikonya.

Jadikan pegalaman berumah tangga selama dua tahun terakhir menjadi pijakan keputusan yang akan anda ambil. Apakah anda memiliki kemampuan untuk mengubah karakter suami yang suka menipu orang lain?.Apakah anda akan sanggup menerima segala resiko ketika orangtua anda tidak lagi mensuport dan membantu kebutuhan pokok anda? Apakah anda mau kebutuhan makan minum keluarga anda dipenuhi dari cara yang tidak baik?

Jika anda merasa tidak sanggup mengubah keadaan suami dan resiko tindakannya,maka berpisah lebih baik. Semoga anda mendapatka pengganti yang lebih baik atau anda menjadi orangtua tunggal bagi masa depan anak. Tetapi jika anda merasa sanggup menanggung segala resiko tindakan suami yang akan muncul, maka silahkan anda mempertahankan suami anda. wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc