Perjalanan Menuju Ikatan Pernikahan

Pernikahan & Keluarga, 10 Februari 2014

Pertanyaan:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ustadz yang terhormat, semoga Ustadz dan kita semua selalu dalam lindungan dan rahmat Allah SWT. Amiin.

Saya seorang pemuda 24 tahun, saya akan mulai dg cerita akan ketakutan saya untuk berpacaran, takut akan fitnah dan maksiat yang selalu mengancam. Walaupun banyak godaan dan tekanan dari lingkungan, pertemanan, saya berusaha untuk teguh pada prinsip tidak mau pacaran.

Hingga 3 Tahun yang lalu saya bertemu dg seorang gadis yg baik. Singkat cerita kami berpacaran (Sekarang saya sangat menyesal akan kebodohan saya ini, InsyaAllah saya berusaha untuk mendekatkan diri dan bertaubat pada Allah SWT. Saya takut sekali).

Pacar saya sangat baik dan banyak memberikan hal-hal positif dalam kehidupan saya. Karena kebaikan agama dan akhlaknya, saya sangat mencintainya. Hingga muncul niat untuk menikahinya, pacar saya tidak keberatan walau masih kuliah (usianya 18 tahun), kami sama bertujuan untuk ridho Allah SWT.

Hubungan kami dengan orangtua kami sangat baik. Kami mencoba menyampaikan keinginan kami walau belum secara terang-terangan, namun kami sudah menangkap penolakan dari orangtua (ayah) pacar saya yang belum mengizinkan hingga dia menyelesaikan kuliah.

Selama berpacaran kami menjalankan ibadah, dan saling mengingatkan satu sama lain. Tapi dalam hati kecil saya tetap saja ada pertentangan dan merasa menjadi hamba yang Munafik karena tetap berpacaran. Merasa semua ibadah yg dilakukan adalah sia-sia.
Beberapa kali kami mencoba untuk mengakhiri pacaran, namun gagal. Sampai Akhirnya beberapa bulan yang lalu, saya memutuskan untuk pindah tempat tinggal, tujuan saya agar bisa menjaga jarak, saya tidak sampaikan alasan sebenarnya ke pacar saya, karena tidak ingin menyakitinya.
Beberapa hari yang lalu (7 Feb) saya merasa mendapat jawaban dari apa yang kami lakukan dan simpan selama ini. Pacar saya menyampaikan keinginan yang tidak jauh berbeda dg ketakutan saya selama ini. Kami sama-sama takut pada Allah SWT. Singkatnya kami sepakat Berhenti Pacaran.

Saya berjanji pada mantan pacar saya akan kembali dengan cara yang benar (menikahi nya). Dan saya pun juga menyampaikan niat itu secara langsung pada orangtua mantan pacar saya. Namun, Ayah nya tetap dengan pendiriannya, akan memberi restu kalau mantan pacar saya telah menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bekerja minimal 2 tahun (kalau dihitung +- 7 tahun lagi kami harus menunggu).
Pertanyaan saya Ustadz:

1. Apakah yang harus kami lakukan untuk bertaubat atas dosa-dosa pacaran kami? Kami takut tidak dipersatukan dalam Ridha Allah SWT.

2. Bagaimana caranya agar hati ini bulat dan ikhlas untuk menerima keputusan (berhenti pacaran) yang sudah kami buat? karena terkadang saya masih merasakan sakit karena keputusan ini.

3. Saya merasa berat untuk berjuang melawan fitnah dan godaan tanpa seorang pendamping di sisi saya yang akan meredam semua itu untuk waktu yang cukup lama itu. Saya berkeinginan untuk secepatnya dapat menggapai Ridha Allah SWT dengan jalan menikahi mantan pacar saya. Namun tersandung Restu dari Ayah mantan pacar saya, apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan Restu itu Ustadz?
Terimakasih atas kesediaan Ustadz untuk memberikan solusi dari permasalahan saya ini.

Salam.



-- Yoga Nugraha Wakamenta (Medan)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Benar, berpacaran adalah perbuatan dosa yang seharusnya dihindari oleh seorang muslim, dan anda wajib untuk bersyukur ketika anda sudah mengetahui dosa tersebut bahkan anda sudah menyesalinya, tetapi penyesalan tersebut tidak akan ada artinya apa-apa,  kalau anda tetap menjalin hubungan dengan wanita tersebut, Penyesalan anda tersebut harus dibuktikan dalam bentuk pemutusan hubungan dan banyak beristughfar kepada Allah atas kesalahan masa lalu tersebut

Dan kalau anda memang harus cepat menikah, maka segera cari calon pasangan yang memenuhi kriteria Rasulullah, yaitu yang baik agama dan akhlaqnya, kalau sudah mendapatkan calon yang memenuhi kriteria tersebut ( barangkali salah satunya adalah, mantan pacar anda ), maka segera proses khitbah dan akadnya, apabila gagal satu calon, maka cari calon yang lain, dan janganlah terpaku pada satu calon saja

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb. 



-- Agung Cahyadi, MA