Assalamualaikum Wr Wb, Ustadz. Semoga senantiasa dalam rahmat Allah. Mohon pencerahan, Ustadz. Rumah tangga kami berjalan 5 tahun dengan 2 balita. Kira2 setahun lalu suami memutuskan resign dan membuka usaha. Sampai dengan saat ini pendapatan usaha berputar di operasional saja, sehingga bisa dikatakan untuk kebutuhan RT tidak mencukupi, sementara tabungan semakin menipis, bahkan ada beberapa hutang. Di sisi lain anak kami ada kondisi kesehatan khusus yg memerlukan terapi rutin 2x per pekan dgn biaya yg saat ini sulit kami usahakan, sehingga terpaksa berhenti sementara. Saya sendiri ibu rumah tangga yang mencoba berpenghasilan meski dari rumah, alhamdulillah bisa untuk makan. Sebenarnya saya ada potensi bekerja namun sudah 3 tahun lalu memutuskan membersamai anak2 di rumah. Akhir-akhir ini saya berpikir (mungkin) terlalu keras tentang bagaimana harus melunasi hutang, membayar biaya sekolah anak, dan terutama terapi kesehatan anak yang semakin saya khawatirkan jika lama ditinggalkan. Termasuk mempertimbangkan apakah saya harus kembali bekerja, sementara suami sepertinya sudah mantap berwirausaha bahkan menolak beberapa tawaran pekerjaan yang datang, yang sebenarnya saya kurang sependapat dalam hal ini dengan beliau. 1. Apakah durhaka jika mungkin saya kurang ridho sehingga mendorong suami untuk berikhtiar lebih dikarenakan kekhawatiran akan anak2 kami? 2. Apakah kekhawatiran saya ini termasuk kufur nikmat? Mungkin ada konsep saya yang salah mengenai bagaimana bekerjanya rizki. Bagaimana sebaiknya saya menyikapi kerisauan saya ini, Ustadz, sehingga saya pun dapat bermuhasabah diri. Terima kasih. Jazakallahu khoiron.
والسلام عليكم ورØÙ…Ø© الله وبركاته
Saudari istri yang solehah yang sedang naik tangga-tangga kemapanan dan kebahagiaan keluarga.
Anda bukanlah istri yang kufur nikmat, tapi istri yang setia dan bertanggung jawab pada amanah keluarga.
Kufur nikmat itu mengingkari nikmat itu pemberian ALLAH semata, dan ketika mertambah kenikmatan itu membuatnya semakin jauh dari ALLAH SWT.
Anda istri yang baik, ingin meringankan tugas suami. Tapi tetap saja anda harus menyerahkan keputusannya pada suami. Maka sampaikain semua masalah kekurangan keluarga dengan terlebih dahulu menunjukkan penghargaan kepada keputusan suami dan pada semua hasil jerih payahnya...baru ibu sampaikan ide-ide hebat ibu dengan tanpa ada nada meremehkan beliau dan menekan beliau, sampaikan fakta-fakta keluarga dengan hati-hati jangan sampai ada kesan yang menunjukkan ini semua adalah kesalahan dan kekurangan suami....semua ide baik anda diterima suami.
Yang paling penting adalah semakin deatlah kepada YANG MAHA KAYA..BERDOA DENGAN SUNGGUH SUNGGUH TANPA ADA RAGU-RAGU SELAMA APAPUN PERUBAHAN BELUM NAMPAK. PERBANYAK ISTIGHFAR DAN DOA NABI YUNUS (
لااله الا انت Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ùƒ اني كمت من الطالمين
ÙSemoga keajaiban hidup menghiasi perjalanan hidup anda sekeluarga..WaLLAHU a'lam