Assalammualaikum, Ustadz.
Mungkin sebelumnya pertanyaan saya sudah pernah ditanyakan oleh saudari Nayla. Pikiran-pikiran negatif tentang Allah membuat saya tidak tenang. Berdzikir setiap malam, bahkan saya nyaris frustasi menghadapi ini sendirian. Terdapat hadist bahwa sesungguhnya itu adalah was-was syaitan dan Rasulullah saw juga pernah mengatakan kepada sahabat bahwa jgn pernah dikatakan dan dilakukan. Rasulullah juga menyuruh sahabat untuk mengabaikannya. Saya mencobanya, Ustadz bahkan saya berusaha untuk mengelabuhi pikiran tersebut, tapi pikiran itu masih menggelayuti hati saya. Saya takut bahwa saya sudah musyrik, kafir. Apalagi, Allah berfirman bahwa kafir setelah beriman janganlah kamu meminta maaf. Saya takut, Ustadz. Apakah saya sudah murtad? Apakah saya sudah kafir? Apakah saya harus bertaubat? Tapi, bagaimana jika taubat saya tidak diterima krn takut pikiran tersebut terulang kembali. Bagaimana cara saya menghilangkan pikiran tersebut? Sejujurnya, pikiran ini ada sejak saya mulai untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Terimakasih, Ustadz. Wassalam
Wa'alaikumussalaam wrwb.
Syetan mempunyai banya cara dalam menebarkan godaannya, diantaranya dalam bentuk bisikan hati untuk mengucapkan kalimat kekufuran. Ini tidak hanya terjadi pada mukmin yang awam, bahkan semacam ini terjadi pada diri para sahabat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :
وكثيرا ما تعرض للمؤمن شعبة من شعب Ø§Ù„Ù†ÙØ§Ù‚ ثم يتوب الله عليه . وقد يرد على قلبه بعض ما يوجب Ø§Ù„Ù†ÙØ§Ù‚ ÙˆÙŠØ¯ÙØ¹Ù‡ الله عنه . والمؤمن يبتلى بوساوس الشيطان وبوساوس Ø§Ù„ÙƒÙØ± التي يضيق بها صدره
Seringkali muncul dalam diri orang mukmin, salah satu diantara cabang kemunafikan, kemudian dia bertaubat kepada Allah. Terkadang terlintas dalam hati orang mukmin, kalimat kemunafikan, dan Allah menghilangkannya darinya. Orang mukmin diuji dengan was-was setan, bisikan kekufuran yang membuat sempit hatinya.
Kemudian Syaikhul Islam menyebutkan riwayat dari para sahabat,
كما قال Ø§Ù„ØµØØ§Ø¨Ø© : يا رسول الله إن Ø£ØØ¯Ù†Ø§ ليجد ÙÙŠ Ù†ÙØ³Ù‡ ما لئن يخر من السماء إلى الأرض Ø£ØØ¨ إليه من أن يتكلم به Ùقال « ذلك ØµØ±ÙŠØ Ø§Ù„Ø¥ÙŠÙ…Ø§Ù† »
Sebagaimana yang diutarakan para sahabat, ‘Wahai Rasulullah, kami terkadang menjumpai lintasan pikiran pada diri kami, andaikan kami dijatuhkan dari langit, lebih kami sukai dari pada mengungkapkan lintasan pikiran itu.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomentar, “Itu bukti adanya iman.” (HR. Muslim 132, Abu Daud 5111, dan yang lainnya).
أي ØØµÙˆÙ„ هذا الوسواس مع هذه الكراهة العظيمة ØŒ ÙˆØ¯ÙØ¹Ù‡ عن القلب ØŒ وهو من ØµØ±ÙŠØ Ø§Ù„Ø¥ÙŠÙ…Ø§Ù†
“Maksudnya, munculnya bisikan semacam ini, padahal para sahabat sangat membencinya, dan berusaha menghilangkannya dari hati mereka, merupakan bukti adanya iman.
[Kitab Al-Iman 238, dinukil dari Kitab Tauhid Dr. Sholeh Fauzan, hlm. 25].
Dan para Ulama' Sepakat bahwa ini bukan Kekufuran
An-Nawawi dalam karyanya, Al-Azkar, mengatakan :
الخواطر ÙˆØØ¯ÙŠØ« Ø§Ù„Ù†ÙØ³ إذا لم يستقر ويستمر عليه ØµØ§ØØ¨Ù‡ ÙمعÙÙˆ عنه Ø¨Ø§ØªÙØ§Ù‚ العلماء، لأنه لا اختيار له ÙÙŠ وقوعه ولا طريق له إلى الانÙكاك عنه
Lintasan pikiran dan bisikan hati, jika tidak mengendap dan tidak keterusan berada dalam diri pelakunya, hukumnya dimaafkan, dengan sepakat ulama'. Karena munculnya kejadian ini di luar pilihan darinya. Sementara tidak ada celah baginya untuk menghindarinya.
An-Nawawi melanjutkan :
وهذا هو المراد بما ثبتَ ÙÙŠ الصØÙŠØ عن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) أنه قال: ” إنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لأÙمَّتÙÙŠ ما ØÙŽØ¯Ù‘َثَتْ بÙه٠أنْÙÙØ³ÙŽÙ‡Ø§ ما لَمْ تَتَكَلَّم بÙه٠أوْ تَعْمَلْ “. قال العلماء: المراد به الخواطر التي لا تستقرّ.
Inilah makna dari hadits shahih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لأÙمَّتÙÙŠ ما ØÙŽØ¯Ù‘َثَتْ بÙه٠أنْÙÙØ³ÙŽÙ‡Ø§ ما لَمْ تَتَكَلَّم بÙه٠أوْ تَعْمَلْ
Sesungguhnya Allah mengampuni untuk umatku terhadap apa yang terlintas dalam hatinya, selama tidak diucapkan atau dikerjakan. (HR. Muslim 127).
Para ulama' mengatakan : ‘Maksud hadits adalah lintasan pikiran yang tidak menetap dalam hati.
An-Nawawi melanjutkan :
قالوا: وسواءٌ كان ذلك Ø§Ù„Ø®Ø§Ø·ÙØ±Ù غÙيبة أو ÙƒÙØ±Ø§Ù‹ أو غيرَه، Ùمن خطرَ له Ø§Ù„ÙƒÙØ±Ù مجرّد خَطَر٠من غير ØªØ¹Ù…Ù‘Ø¯Ù Ù„ØªØØµÙŠÙ„ه، ثم صَرÙÙ‡ ÙÙŠ Ø§Ù„ØØ§Ù„ØŒ Ùليس Ø¨ÙƒØ§ÙØ±ØŒ ولا شئ عليه.
Para ulama' mengatakan : baik bisikan itu berupa ghibah, atau kekufuran, atau yang lainnya. Siapa yang terlintas dalam hatinya kekufuran, dan hanya sebatas lintasan tanpa sengaja muncul, kemudian segera dia hilangkan, maka dia tidak kafir, dan tidak bersalah sedikitpun. (Al-Azkar An-Nawawi, hlm. 345).
Apa Yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Lintasan Kekufuran?
Pertama : jangan sampai diucapkan atau dipraktekkan
Demikialah sikap sahabat, sebagaimana diceritakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah datang beberapa orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan,
Ø¥Ùنَّا Ù†ÙŽØ¬ÙØ¯Ù ÙÙÙŠ أَنْÙÙØ³Ùنَا مَا يَتَعَاظَم٠أَØÙŽØ¯Ùنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بÙه، قَالَ: «ÙˆÙŽÙ‚َدْ وَجَدْتÙÙ…ÙÙˆÙ‡ÙØŸ» قَالÙوا: نَعَمْ، قَالَ: «Ø°ÙŽØ§ÙƒÙŽ ØµÙŽØ±ÙÙŠØÙ الْإÙيمَانٻ
‘Kami menjumpai dalam diri kami lintasan yang sangat berat bagi kami untuk mengucapkannya.’ Beliau bertanya kepada mereka, “Benar kalian menjumpai perasaan itu?” ‘’Itu bukti adanya iman.” (HR. Muslim 132).
An-Nawawi menjelaskan,
معناه: استعظامكم الكلام به هو ØµØ±ÙŠØ Ø§Ù„Ø¥ÙŠÙ…Ø§Ù†ØŒ ÙØ¥Ù† استعظام هذا وشدة الخو٠منه ومن النطق به، ÙØ¶Ù„اً عن اعتقاده إنما يكون لمن استكمل الإيمان استكمالاً Ù…ØÙ‚قاً ÙˆØ§Ù†ØªÙØª عنه الريبة والشكوك
Makna hadis, kalian merasa berat untuk mengucapkannya merupakan butk adanya iman. Karena dia merasa berat mengucapkan kalimat semacam ini, disertai perasaan sangat takut untuk mengucapkannya. Lebih-lebih dia dia yakini. Sikap semacam ini hanya ada pada orang yang imannya kokoh dan teruji, sehingga hilang darinya segala keraguan dan bimbang. (Syarh Shahih Muslim, 2/154).
Kedua : segera minta perlindungan kepada Allah dari godaan setan (baca ta’awudz)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَأْتÙÙŠ الشَّيْطَان٠أَØÙŽØ¯ÙŽÙƒÙمْ ÙÙŽÙŠÙŽÙ‚ÙولÙ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، ØÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ ÙŠÙŽÙ‚Ùولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ ÙÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ بَلَغَه٠ÙÙŽÙ„Ù’ÙŠÙŽØ³Ù’ØªÙŽØ¹ÙØ°Ù’ Ø¨ÙØ§Ù„لَّه٠وَلْيَنْتَهÙ
Setan mendatangi kalian dan membisikkan: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ sampai akhirnya dia membisikkan, ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ jika sudah demikian, segeralah minta perlindungan kepada Allah, dan berhenti (tidak memikirkannya). (HR. Bukhari 3276 dan Muslim 134) .
Ketiga : jangan dihiraukan
Barangkali inilah senjata paling ampuh untuk melawan was-was setan. Tidak mempedulikannya dan tidak menghiraukannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يَأْتÙÙŠ الشَّيْطَان٠أَØÙŽØ¯ÙŽÙƒÙمْ ÙÙŽÙŠÙŽÙ‚ÙولÙ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، ØÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ ÙŠÙŽÙ‚Ùولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ ÙÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ بَلَغَه٠ÙÙŽÙ„Ù’ÙŠÙŽØ³Ù’ØªÙŽØ¹ÙØ°Ù’ Ø¨ÙØ§Ù„لَّه٠وَلْيَنْتَهÙ
Setan mendatangi kalian dan membisikkan: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ sampai akhirnya dia membisikkan, ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ jika sudah demikian, segeralah minta perlindungan kepada Allah, dan berhenti (tidak memikirkannya). (HR. Bukhari 3276 dan Muslim 134) .
Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan :
أي عن الاسترسال معه ÙÙŠ ذلك، بل يلجأ إلى الله ÙÙŠ Ø¯ÙØ¹Ù‡ ويعلم أنه يريد Ø¥ÙØ³Ø§Ø¯ دينه وعقله بهذه الوسوسة، Ùينبغي أن يجتهد ÙÙŠ Ø¯ÙØ¹Ù‡Ø§ بالاشتغال بغيرها
“Maksudnya, berhenti tidak terus menerus memikirkan lintasan pikiran itu. Namun dia pasrahkan kepada Allah untuk menghilangkannya. Dan dia sadari bahwa setan hendak merusak agama dan pikirannya dengan bisikan semacam ini. sehingga selayaknya dia berusaha menghilangkannya dengan menyibukkan diri memikirkan yang lainnya. (Fathul Bari, 6/340)
An-Nawawi juga memberikan penjelasan yang semakna,
معناه الإعراض عن هذا الخاطر الباطل والالتجاء إلى الله تعالى ÙÙŠ إذهابه
Maknanya, berpaling, tidak gubris dengan lintasan pikiran yang batil ini, dan pasrah kepada Allah untuk menghilangkannya.
Selanjutnya, An-Nawawi membawakan nasehat, dengan mengutip keterangan Al-Maziri,
قال الإمام المازري رØÙ…Ù‡ الله ظاهر Ø§Ù„ØØ¯ÙŠØ« أنه صلى الله عليه وسلم أمرهم أن ÙŠØ¯ÙØ¹ÙˆØ§ الخواطر بالإعراض عنها والرد لها من غير استدلال ولا نظر ÙÙŠ إبطالها
Al-Imam Al-Maziri rahimahullah mengatakan,
“Zahir hadis menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk menghilangkan lintasan pikiran itu dengan berpaling dan tidak digubris, tanpa mencari-cari dalil atau merenungkan bantahan untuk menilai salahnya lintasan itu.”
Dan benar apa beliau nasehatkan. Lintasan kekufuran semacam ini hanya permainan setan, sehingga buat apa menghabiskan waktu dengan mencari dalil atau ayat Al-Quran atau hadits untuk membantahnya. Lebih dari itu, ini bukan termasuk kekufuran, sehingga tidak perlu terlalu dipikirkan.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk melindung kita semua dari gangguan syetan
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.