Assalaamu 'Alaikum Wr. Wb. Saya sudah berumah tangga selama 4 tahun dan memiliki seorang anak laki-laki usia 16 bulan. Saya mohon bantuannya mengingat permasalahan yang saya hadapi dengan suami saya sangat berat.
Saya dan suami saya sama-sama bekerja dan memiliki penghasilan masing-masing. Suami saya pernah menafkahi saya itupun bisa dihitung berapa kali suami saya memberi nafkah kepada saya, selebihnya sampai saat ini suami saya tidak memberikan nafkahnya kepada saya. Setiap suami saya gajian selalu saya tanya soal gajinya dan suami saya selalu berbohong kepada saya. Apalagi jika saya minta uang kepada suami saya, selalu dijawabnya "iya nanti". Selama berumah tangga selalu saya yang mengeluarkan uang untuk keperluan sehari-hari, membayar kontrakan, membayar listrik, membayar hutang dan juga untuk ongkos kerja kami berdua. Bagi saya itu cukup berat apalagi dengan gaji saya yang tidaklah besar.
Pernah saya memutuskan pulang kerumah orangtua saya karena suami saya sudah sangat keterlaluan, seperti motor yang saya ambil malah digadaikan oleh suami saya tanpa sepengetahuan saya, dan masih banyak lagi kesalahan yang suami saya buat sampai saya harus menanggung malu atas perilaku suami saya. Pernah saya meminta bercerai dari suami saya karena saya sudah tidak tahan, tetapi dia tidak mau bercerai dengan alasan kasihan sama anak dan suami saya sempat berjanji kepada saya untuk tidak mengulanginya lagi. Kami sempat berpisah selama 5 bulan dan sekarang kami sudah bersatu lagi. Janji yang sempat diucapkan oleh suami saya itu hanyalah omong kosongnya yang tidak dibuktikan. Sekarang dia masih seperti itu lagi yang selalu membuat saya stres dan marah-marah.
Saya pusing dan juga stres menghadapi permasalahan dengan suami saya. Saya sekarang sudah menyerah dengan rumah tangga kami. Dan saya masih menginginkan bercerai dari suami saya.
Mohon bantuannya mengenai permasalahan dalam rumah tangga saya.
Terima kasih.
Wa'alaikumussalaam wrwb.
Cerai itu adalah sebuah solusi, dan sebagai sebuah solusi ia adalah solusi yang terkhir kali yang dipakai ketika upaya perbaikan yang maksimal sudah tidak lagi bisa memberikan manfaat bagi upaya perbaikan tersebut
Kondisi suami anda sebagaimana yang anda ceritakan adalah kondisi yang salah dan perlu adanya upaya perbaikan yang serius
Ada beberapa langkah yang mungkin bisa ditempuh dalam upaya perbaikan suami yang salah :
1. Bangun komunikasi yang baik dengan suami untuk mendiskusikan problema keluarga kalian dan ingatkan suami akan posisinya sebagai kepala rumah tangga yang semestinya harus bertanggungjawab untuk nafkah keluarga
2. Ketika upaya komunikasi dengan cara yang baik tidak memberikan hasil sebagaimana yang anda inginkan yaitu agar suami menyadarai kesalahannya, maka perlu melibatkan fihak ketiga ( kalau bisa dari fihak keluarga anda dan keluarga suami ) untuk bisa membantu mencari solusi bagi perbaian suami
3. Dekat diri kepada Allah secara optimal, mohon petunjuk-Nya, mohon bimbingan-Nya, mohon kemudahan dari-Nya agar Allah berkenan untuk membuka hati suami sehingga segera menyadari tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga
3. Kalau dengan upaya-upaya diatas tidak juga bisa memberikan solusi, maka kesalahan suami anda tersebut in syaa Allah sudah bisa dijadikan alasan untuk memproses cerai
Demikian, semoga Allah bertkenan untuk memberikan kemudaha, tafiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.