Assalamualaikum..
Saya baru menikah 10 bulan, dalam kehidupan berumah tangga hampir tiap bulan ribut. Ada saja bahan untuk ribut. Salah satu contoh nya adalah istri saya menginginkan semua gaji saya dia yang pegang, saya hanya boleh pegang uang 100 ribu untuk beli bensin motor. Kalaupun ada keperluan diluar itu, saya yg harus meminta uang ke istri. Sedangkan istri saya tidak bekerja, di rumah pun dia tidak melakukan apa2 hanya main hp dan nonton tv saja kerjaannya sedangkan pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh pembantu. Saya capek dengan kehidupan berumahtangga seperti ini, tidak ada kebahagiaan yang saya rasakan. Semua kehendak dia saya turuti, karena saya berpikir suatu saat nanti kalau sampai dititik jenuh saya akan menceraikan istri saya.
Bagaimana solusi nya ustadz, karena saya berasa seperti tahanan rumah. Hanya boleh kerja dan di rumah saja. Kalaupun ke luar harus sama dia, sedangkan istri saya kalau saya tidak di rumah dia keluar acara dg teman2nya. Pernah saya tegur ya ujung2 nya ribut.
Wa'alaikumussalam wr.wb.
Ya kondisi rumah tangga seperti yang Saudara alami ini sangatlah tidak benar. Sebagaimana firman Allah (QS. An Nisa':34) dan hadits Nabi SAW (HR. Bukhari-Muslim), suamilah yang harus lebih dominan dalam keluarga. Karena dialah pemimpin dan penanggung jawab pertama. Maka dia juga yang harus menjadi penentu utama dalam segala hal.
Sementara kewajiban utama istri adalah patuh, taat dan mengikuti suami sebagai kepala keluarga. Meskipun sebagai pemimpin dan penanggung jawab yang baik juga tidak boleh otoriter. Tetap harus ada musyawarah diantara suami istri dan anggota keluarga yang lain. Sehingga istri dan anak-anak, jika sudah ada, tetap punya hak untuk memberikan pendapat yang harus didengar dan untuk menyampaikan oponi yang perlu diperhatikan. Akan tetapi pemegang kendali tetaplah suami.
Itulah gambaran kondisi keluarga menurut Islam. Itu yang normal. Itu yang baik. Sementara jika kondiri terbalik seperti yang terjadi pada rumah tangga Saudara, maka itu tidak normal, tidak sehat, menyalahi kaidah syariah dan tentu saja sangat tidak baik atau bahkan sangat buruk sekali ke depannya.
Lalu bagaimana solusinya? Tidak ada solusi lain, kecuali Saudara harus mengambil alih kendali sebagai penentu dan pemutus utama segala sesuatu dalam segala urusan rumah tangga Saudara. Dan harus secepatnya. Sekarang juga. Senyampang masih relatif baru. Belum jauh. Jika tidak, maka kondisi akan semakin buruk, istri akan semakin dominan lagi dan lagi serta semakin "nglunjak", dan nanti akan semakin sulit bagi Saudara jika hendak membenahinya. Sebab saat itu Saudara telah berada pada posisi yang semakin tidak berdaya.
Bagaimana jika dia tidak mau dan malah memberontak? Ya itupun Saudara sendiri yang harus memutuskan dan menentukan sikap sesuai kesiapan Saudara. Tapi yang jelas, jika seorang perempuan tidak siap patuh, taat dan ikut kepemimpinan suami, maka berarti sebenarnya dia tidak siap jadi istri. Itu saja. Selebihnya, Saudara sendiri yang memutuskan.
Sekian, teriring doa semoga Allah Ta'ala memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya kepada Saudara dalam memilih opsi dan menentukan solusi terbaik. Amin.