Istri Dominan Dan Tidak Hormat Pada Suami

Pernikahan & Keluarga, 21 Juni 2019

Pertanyaan:

Usia pernikahan saya telah berjalan 2 tahun. Saya sangat sayang dengan istri karena di awal permikahan saya melihat dia adalah sosok istri ideal yang mampu membahagiakan saya, sangat sopan, pandai bertutur kata dan berparas menarik. Sudah hampir 2 tahun dia bekerja dengan karier yang cukup baik, sangat menonjol prestasinya dibandingkan teman-temannya. Satu tahun belakangan ini tampak sekali dia larut dalam kesibukan pekerjaanya dan sering keluar kota. Sehingga waktu bertemu dengan suami dan keluarga pun sangat terbatas. 

Saat awal dia bekerja (atas seijin saya), saya perbolehkan dengan catatan tidak melebihi waktu kerja saya. Tetapi apa yang terjadi saat ini benar-benar tidak dapat dikendalikan. Bahkan cenderung mengutamakan pekerjaan kantornya. Sehingga hubungan kami pun makin hari saya rasakan mengalami kemunduran. Untuk melayani kebutuhan biologis suami sangat terbatas (3 -5 kali sebulan), itu pun harus dengan meminta-minta dan dialah penentu persetujuannya dengan tak.lagi hangat seperti di awal pernikahan. Tadinya saya berharap dengan memiliki anak maka akan sedikit mengerem aktifitasnya dan bisa fokus mengurus buah hati kami. Tetapi peluang memiliki anak semakin kecil dengan frekuensi berhubungan yang sangat terbatas dan saya rasakan tanpa kasih sayang dan diinginkan di hatinya.

Secara materi dia tak pernah kekurangan, terlebih lagi sejak bekerja dengan penghasilan dan fasilitas yang menurut ukuran saya sudah sangat berkecukupan untuk dibelanjakan oleh dirinya sendiri. Sehingga dengan posisi tersebut, tak ada kekhawatiran untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Dan tak ada sedikitpun rasa untuk patuh, hormat dan menghargai suami. Sikapnya selalu merendahkan saya dan tidak mau dipimpin oleh saya sebagai kepala keluarga. Hingga kini saya masih mencoba untuk bertahan sambil memohon doa agar dirinya segera diberikan hidayah. Sejak setahun belakangan seingat saya sudah 3 kali minta berpisah. Hal ini membuat saya terpukul secara batin. Setiap kesalahpahaman selalu menjadi besar dan saya selalu dalam posisi mengalah. Saya pernah bicara dengan orang tuanya dengan maksud sebagai mediasi, tetapi rupanya orang tuanya juga tak sanggup menegur tegas kepada anaknya karena dia anak paling besar dan kontribusinya dalam.membantu finansial keluarganya cukup menentukan.

Pertanyaan saya, apakah saya harus ambil langkah tegas sebagai imam dan pemimpin keluarga ataukah saya masih nurut saja apapun kata dia? Karena dengan langkah ini tentunya langsung terjadi perselisihan terbuka dengan istri saya. Sehingga akan mudah baginya untuk kembali meminta perpisahan sebagai solusi. Saya tidak tahu dengan sikapnya selama ini memang disengaja hingga habis kesabaran saya dan masuk dalam perangkap dia untuk berbicara ke arah perpisahan atau memang  sudah acuh tak acuh. 

Kadang di saat logika berpikir saya tidak bisa menerima keadaan ini selalu mudah berpraduga apakah saya melakukan semua ini dengan sadar atau saya diguna-guna. Sehingga tanpa ada sedikitpun perlawanan dari saya untuk membantahnya atau sekedar menyatakan tidak setuju atas segala yang diucapkannya.  

Mohon pencerahan. Saya ingin istri sholehah, dengan dia kembali seperti wanita yang saya lihat waktu pertama berniat menikahinya. 

Terimakasih.



-- Tiar (Bandung)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Salah satu kata kunci untuk mencari solusi dalam perselisihan suami istri adalah KOMUINIKASI (kesiapaan untuk saling memberi masukan dan diberi masukan)

Yang karenanya, maka seyogyanya anda bangun komunkasi yang baik dengan istri untuk memusyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan upaya membangun rumah tangga yang baik, tentang bagaimana mestinya peran seorang suami dan juga seorang istri dalam keluarga

Kalaupun dengan komunkasi yang baik tetap saja belum memberikan hasil yang diharapkan, maka sebaiknya melibatkan fihak ketiga yang memiliki kapasitas untuk menjadi penengah dan memeberikan solusi

Itu barangkali upaya awal yang barangkali anda bisa lakukan, tetapi jangan lupa upaya-upaya tersebut hanyalah ikhtiyar, sementara kunci suksenya adanya di Langit, yang karenanya maka pastikan bahwa anda benar-benar sudah dekat dengan Allah, dengan melakukan ibadah, khsusnya shalat dengan yang terbaik dan pastikan juga bahwa anda tidak pernah putus untuk bermohon kepada-Nya

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA