Assalamualaikum ustadz, Saya seorang istri berusia 42 tahun, suami 45 tahun, usia pernikahan 18 tahun, dikaruniai 2 anak usia 16 & 12 tahun. Dari gadis saya bekerja bag. administrasi di suatu kantor hingga saat ini. Sejak awal pernikahan suami tidak pernah memberitahukan besarnya gaji/penghasilan ke saya hingga saat ini. Dia hanya memberikan saya nafkah/jatah seadanya bahkan tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga. Dia pikir Karena saya bekerja & punya penghasilan sendiri saya yang harus menutupinya.
Hingga suatu saat saya menemukan slip gajinya. Bukti potong Pajak penghasilan dia kasih ke saya karena saya yang melaporkan pajak tahunannya. Dari situ saya bisa tahu besarnya penghasilan dia selama setahun. Penghasilan dia ternyata lebih besar dari penghasilan saya.
Dengan nafkah 1,5 jt diawal lalu 2 juta perbulan, bulan terakhir ini dia kasi nafkah saya 3 juta perbulan. Saya harus menutupi semua kebutuhan, dari cicilan rumah, susu anak, sekolah anak, & tagihan bulanan rumah tangga.
Sampai kredit mobil, renovasi rumah semua saya yang tutupi. Pernah saya mengeluh/protes ketika tagihan PLN naik, harus bayar pajak & asuransi mobil tapi dia jawab kalau dia tidak punya uang & simpanan, malah kadang dia sering pinjam teman buat keperluan sehari-hari dia.
Suami tidak pernah mau tahu urusan di rumah, Setiap saya tanya kemana larinya gaji dia, dia jawab emang dia gak butuh pegangan untuk sehari2, kumpul dgn teman2, kasi saudara, & amal. Dia hanya butuh saya utk kebutuhan intim saja, jadi pemuas nafsu tapi tdk bertanggung jawab. Belakangan saya baru menyadari merasa direndahkan, diremehkan & tidak dihargai.
Perlu diketahui suami tidak sholat. Selama ini saya berusaha untuk sabar & berdoa. Lama2 saya lelah & kecewa. Ramadhan kemarin kami ribut besar, ketika dia minta berhubungan saya tolak dgn alasan cape & lelah, dia berucap kasar saya istri durhaka, ga penurut dan dia bilang ke saya disuruh pulang ke orang tua saya.
Sudah 2 x dia bilang spt itu, & yg ke3 dia bilang terserah kamu sana pergi... rumah atas nama dia & saya g berhak katanya.
Dengan keadaan yang spt ini boleh kah sy menggugat cerai? Saya sdh ga tahan dengan situasi ini. Kira2 dgn alasan2 tsb terkabulkan tidak gugatan saya?
Selama ini saya tidak pernah cerita ke keluarga saya karena malu apalagi dgn orang tua saya (mereka sudah berusia lanjut) saya tidak mau orang tua saya sedih krn tahu keadaan saya spt ini.
Mohon sangat pencerahannya ustadz, mohon maaf apabila ada tulisan yang tidak berkenan & kurang dimengerti.
Wassalamu'alaikum wr wb.
Wa'alaikumussalaam wrwb.
Semua yang ibu ceritakan perihal kondisi suami dan hubungannya dengan kehidupan rumah tangga adalah permasalahan yang bisa terjadi di rumah tangga siapa saja
Dan salah satu kata kunci yang berpoptensi menjadi awal dalam mengurai permasalahan tersebut adalah KOMUNIKASI, artinya kesiapan suami dan istri secara bersama sama membangun komunikasi yang baik untuk bermusyawarah saling siap memberi masukan dan diberi masukan
Kalau masalahnya hanya sebagaimana dalam poin diatas, maka yang semestinya anda lakukan adalah membangun komunisai yang baik dengan suami untuk memusyawarahkan dan untuk saling memberikan masukan, jika diperlukan bisa melibatkan fihak ketiga yang mempunyai kapasitas untuk menjadi penengah dan memberikan solusi, kalau tidak juga bisa memberikan solusi. barangkali berpisah bisa menjadi alternatif terkahirnya
Tetapi masalahnya ternyata ada lebih besar dari itu semua, yaitu permasalahan suami yang tidak shalat, Hal ini adalah masalah yang sangat mendasar, karena menurut kesepakatan Ulama' bahwa seorang muslim yang tidak mau untuk shalat fardhu 5 kali sehari, dihukumi sebagai seorang yang kafir, Dan sorang wanita muslimah tidak boleh untuk dinikahi sebagai seorang yang dihukumi sebagai seorang kafir, kalau tetap menikah, makanya nikahnya tidak sah secara syar'i
Yang karenanya, jika benar-benar suami memang tidak mau shalat sebagai konskwensi keimanannya, maka berpisah menjadi suatu keharusan
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.