Menghadapi Suami

Pernikahan & Keluarga, 17 September 2019

Pertanyaan:

Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh Ustadz..

Rumahtangga saya dan suami telah berjalan selama 6 tahun. di tahun ke-3 pernikahan, kami mengalami goncangan hebat dalam rumahtangga yang menyebabkan kami sama2 terjerumus dalam dosa karena kondisi kami yang LDR (Long Distance Relationship). namun sejak tahun ke-5 hingga sekarang, kondisi rumah tangga kami berangsur-angsur membaik. namun saat terjadi pertengkaran, atau ada perkataan saya yang membuat suami tersinggung atau emosi, maka dia akan langsung mengungkit2 masa lalu saya tersebut, bahkan pernah ada omongan dia mengancam akan membuka aib saya, memasang foto saya yang belum berhijrah. tidak hanya sekali dua kali kata-katanya menyakitkan untuk saya, tapi saya berusaha bersabar. karena saya sadar bahwa yang dikatakannya ttg masa lalu itu benar adanya dan saya tidak ingin semakin memperkeruh suasana. tapi apakah tidak adakah kesempatan bagi pendosa seperti saya untuk berhijrah dengan harapan hidup tenang tanpa ada lagi pembicaraan yang menyakitkan ttg masa lalu? saya merasa bahwa saya ini terlalu hina di mata suami, sehingga suami bisa berkata semaunya kepada saya. Yang saya sesalkan, masa lalu suami jg pernah tidak baik namun saya berusaha untuk tidak mengungkit2nya. tapi setelah pertengkaran itu suami bersikap seakan tidak terjadi apa-apa dan dia bersikap biasa lagi. tanpa ada permintaan maaf atau penyesalan. terkadang saya merasa, suami justru ingin merasa saya buruk dan terhina. padahal saya berharap di proses hijrah saya ini, suamilah orang pertama yang membesarkan hati saya, membimbing saya. Tapi sepertinya sulit. karena setiap saya berusaha mengajaknya ke arah yang baik, dia sering mencemooh saya dan menganggap saya sok alim dan kembali mengungkit2 masa lalu saya.

apa yang harus saya lakukan pak ustadz? saya berusaha bersabar, tapi saya tidak tahu sampai mana batas kesabaran saya kalo terus menerus dihina seperti itu. saya selalu berusaha tersenyum membesarkan hati suami, tapi sebenarnya hati saya ini sakit sekali setiap kali mengingat ucapan dan perbuatannya. dan satu lagi pak ustadz, bagaimana caranya untuk menyadarkan suami untuk bertobat atas dosa-dosanya dan supaya dia bisa membatasi pergaulan yang saya perhatikan lebih banyak menghabiskan waktu melakukan hal yang sia-sia dengan teman-temannya? karena terus terang, saya iri dengan teman-temannya,, disaat kondisi LDR seperti ini, suami lebih banyak menghabiskan waktu berlama-lama bersama teman-temannya, bisa bercanda lepas dan melakukan hal yang menyenangkan. Tapi itu berlaku sebaliknya terhadap saya dan anak kami, saat berjauhan hanya telpon atau wa seperlunya. sedangkan saat bertemu, dia sibuk dengan pekerjaannya atau menyibukkan dirinya dengan hp, mengajak ngbrol seperlunya, dan lebih suka tidur. saat saya protes dengan sikapnya tersebut, dia justru lebih membela teman-temannya dan kembali mengungkit-ungkit masa lalu saya,padahal saya hanya menuntut hak kami sebagai istri dan anak untuk lebih diperhatikan daripada orang lain.

Mohon pencerahannya Ustadz.. Terimakasih..

Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh..



-- Nada (Surakarta )

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr.wb.

Kami turut prihatin dan berempati terhadap kondisi Ibu sekeluarga, seraya berdoa semoga Allah Ta'ala membukaan jalan terang solusi terbaik untuk masalah yang sedang Ibu dan suami hadapi. Dan berikut ini beberapa poin catatan yang bisa kami urun rembug-kan, semoga bermanfaat:

Pertama, kuatkan azam (tekad dan semangat) untuk tetap berada di jalan tobat dan hijrah. Dan pastikan bahwa, pertobatan atau hijrah yang Ibu lakukan, adalah murni ikhlas karena dan untuk Allah semata, bukan karena dan untuk suami misalnya dan lain-lain. Ini dasar dan landasan sikap terpenting yang harus senantiasa Ibu pegang.

Kedua, jika kita benar-benar melakukan apa yang kita lakukan karena dan untuk Allah, maka kitapun wajib yakin bahwa, Allah tidak akan meninggalkan dan mengabaikan kita. Dalam hadits, Baginda Rasulullah saw bersabda (yang artinya): "Jagalah Allah, maka niscaya Allah-pun akan menjagamu" (HR. At-Tirmidzi).

Ketiga, bersabar dan terus bersabar. Sampai kapan? Ya sampai kapanpun. Caranya? Jangan pernah lelah dan berhenti untuk selalu mengetuk pintu langit. Disamping jangan pula berhenti berikhtiar membuktikan diri benar-benar telah tobat dan hijrah. Juga tidak ada salahnya jika ditambah dengan mencari bantuan pada orang lain, dari keluarga atau bukan, yang diduga dan diharap bisa membantu untuk menyadarkan suami.

Sekian, doa terbaik kami untuk Ibu sekeluarga.



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA