Suamiku Pemarah


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr wb

sy seorang istri yang sudah menikah selama 6 thn tanpa anak. 

Awal menikah sy hanya berkenalan selama 3 bulan. Kemudian kami segera menikah karena kondisi kesehatan orang tua. 

Tahun demi tahun perkawinan kami lalui.. kadang manis kadang pahit.. 

selama menikah ketika bertengkar, suami selalu memojokkan saya. Saya dibilang tidak pernah mendengar apa kata suami krn penghasilan sy lebih besar darinya. Selalu seperti itu setiap bertengkar. Saya selalu bingung untuk berkomunikasi. Karena ujung2nya dia akan tetap menyalahkan saya. Suatu waktu pernah sy dibandingkan dengan teman wanita di kntrnya dulu. Saya sedih sekali.. seolah2 sy banyak nuntut dan manja. Padahal sy dr sblm menikah sangat mandiri. 

Suami juga tidak akur dengan kk2 saya. Selalu ada alasan tidak mau menemani sy ke rmh kk. 

Tapi ketika sy yg hrs ke rmh mertua atau ipar, dia selalu memaksa harus baik ke keluarganya...

Saya bingung hrs bgmn lagi... Krn suami sangat keras hatinya. Padahal dia selalu mengaji, tp knp tidak berubah jg. Sy sering muncul pikiran untuk cerai. Tapi selalu sy buang jauh2 pikiran tsb.

mohon bantuannya.  

Trima kasih

 

wassalamu'alaikum wr wb

 

 



-- Lia (Jakarta Timur)

Jawaban:

Wa'alaikumusslam wr.wb.

Kami cukup bisa memaklumi dilema yang Ibu alami dengan sikap suami yang tampak pemarah seperti itu. Apalagi dengan usia pernikahan yang sudah 6 tahun tanpa anak, tentu faktor inipun sangat berpotensi turut memberi andil penambah beratnya beban. Namun bagaimanapun, itu adalah fakta dan kenyataan hidup yang harus Ibu hadapi dalam berumah tangga. Lalu bagaimana sebaiknya Ibu harus bersikap dan menghadapi semua itu? Berikut ini kami coba berikan beberapa poin pengingat, semoga bermanfaat.

Pertama, perkuat iman terhadap takdir Allah, yang disertai sikap husnudzan dan bahkan keyakinan bahwa, taqdir Allah yang tampak sebagai musibah yang buruk dan negatif itu, sangat boleh jadi justru mengandung, menyimpan dan membawa hal-hal yang berkah, baik dan positif bagi kehidupan Ibu ke depannya. Karena fakta seperti itu sangat sering sekali terjadi dan dialami oleh banyak orang secara tidak terhitung. Dan sebagai pengingat serta penenang, silakan baca dan renungkan ayat-ayat Allah seperti berikut ini: QS. Al-Hadid: 22-23; QS. At-Thalaq: 7; QS. Al-Insyirah: 5-6; QS. An-Nisa': 19; Al-Baqarah: 216; Dan lain-lain).

Kedua, saat mendapati hal-hal yang mengecewakan pada diri, sikap dan prilaku suami, mungkin salah satu tips tepat minimal untuk meringankan beban beratnya dalam diri Ibu, adalah dengan mengingatkan diri sendiri dan menyadari bahwa, suami yang menjadi pasangan pendamping sekaligus imam bagi Ibu dalam kehidupan rumah tangga yang betapapun mengecewakannya, tak lain adalah merupakan pilihan Ibu sendiri, dan bukan hasil paksaan dari pihak manapun atau siapapun. Karena biasanya, seseorang itu akan lebih siap menerima dan menghadapi resiko negatif dan akibat buruk dari tindakan, perbuatan dan pilihan pribadinya dibanding jika yang harus ditanggung itu merupakan akibat dari ulah pemaksaan dari orang lain! Dan adanya konsekuensi serta resiko termasuk yang paling negatif sekalipun yang harus ditanggung sebagai akibat dari pilihan jalan apapun dalam hidup ini memang sudah merupakan sunnah baku kehidupan itu sendiri yang pasti dialami oleh semua orang, dalam semua bidang.

Ketiga, ditambah lagi sangat penting pula bila Ibu juga mengingatkan diri sendiri dan menyadari bahwa, tak sedikit ibu-ibu lain yang harus menanggung takdir resiko yang bahkan jauh lebih buruk dan lebih berat lagi secara berlipat-lipat dibandingkan dengan yang Ibu alami. Misalnya terkait suami yang bukan sekadar pemarah saja tapi bahkan jahat sejahat-jahatnya dalam segala hal: pengangguran, tak kenal agama, kasar, penyiksa istri tanpa ampun, pemabuk, pejudi, pemain perempuan, dan lain-lain.

Keempat, maka sangat penting sekali agar Ibu mampu bertahan dan bisa lebih bersabar dalam menghadapi ujian suami yang tampak pemarah tersebut, dengan menguatkan selalu sikap syukur. Mungkin Ibu akan bertanya misalnya: lho syukur atas apa, Ustadz? Apakah Ibu harus mensyukuri suami yang sukanya marah-marah, memojokkan, menyalah-nyalahkan, keras hati dan lain-lain yang serba menyakitkan itu? Ya tentu saja tidak. Melainkan Ibu harus pula mengingat dan mensyukuri sisi-sisi baik dan positif pada diri suami dan di dalam perjalanan kehidupan rumah tangga yang telah berjalan 6 tahun itu? Bukankah juga ada sukanya disamping dukanya, ada manisnya disamping pahitnya, ada bahagianya disamping sengsaranya, dan seterusnya? Serta bukankah suami juga adalah orang yang juga suka mengaji, seperti penuturan Ibu sendiri, yang kalau boleh kami simpulkan berarti beliau adalah orang yang cukup beragama. Dan bagian ini termasuk yang paling wajib Ibu syukuri dengan sesyukur-syukurnya. Karena kami sendiri sering menerima curhatan dan konsultasi dari para istri yang ditakdirkan mendapatkan suami-suami dengan keburukan dan kenegatifan yang mungkin bisa dikatakan nyaris sempurna. Sehingga bila dibandingkan dengan mereka, mungkin suami Ibu jadi ibarat "malaikat". Mohon maaf bila itu berlebihan. Tapi yang penting, intinya, dengan selalu berusaha mengingat dan mensyukuri banyak sisi baik dan positif tersebut, insyaallah itu akan lebih membantu dan mempermudah Ibu untuk bisa lebih bersabar dalam menghadapi sisi-sisi buruk dan negatif!

Kelima, wallahu a'lam kami juga kurang tahu apakah poin ini benar ataukah tidak. Tapi maksud kami, barangkali ada bagian penyebab dari sikap pemarah dan keras hatinnya suami serta seringnya beliau menyalahkan dan memojokkan Ibu itu, yang bersumber dari rasa kecewa akibat belum hadirnya momongan dalam usia 6 tahun pernikahan. Karena seringkali itu memang menjadi salah satu faktor penyebab perselisihan dan percekcokan antar banyak pasangan suami istri yang mengalami kondisi yang sama atau serupa. Nah kami kurang tahu dengan kondisi Ibu dan suami dalam hal ini. Namun jika memang benar masalah itu turut memberi andil, maka berarti Ibu perlu lebih bisa memaklumi lalu berusaha bersikap lebih bijak dan proporsional serta mengajak beliau secara bersama-sama mencari solusi terbaik untuk hal itu. Semoga Allah memberi petunjuk jalan.

Demikian tanggapan yang bisa kami berikan, semoga bernmanfaat. Teriring doa kepada Allah Ta'ala semoga Dia selalu melimpahkan rahmat kasih sayang-Nya kepada Ibu sekeluarga. Amin.



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA