Assalamualaikum,
Pak ustad, sekitar 1 taun yang lalu saya pernah melakukan dosa besar, berzina dengan suami orang. Saya sudah berkeluarga. Dan saat ini, suami saya kedapatan selingkuh dan berzina dengan perempuan lain. Perselingkuhan mereka sudah berlangsung lama, sekitar 1 tahun lebih.
Saya pernah mendengar, istri adalah cerminan suami. Dan di setiap rumah tangga, apabila ada yang berlaku maksiat, pintu maksiat akan terbuka untuk anggota keluarga lain.
Yang ingin saya tanyakan:
1. Apakah yg menimpa saya akibat dr perbuatan dosa yang saya/suami lakukan? Apakah ini merupakan azab/hukuman dari Allah?
2. Saya sdh bertobat dg taubatan nasuha. Sy mnyesal dan berjanji tdk akn mengulangi lagi. Tapi suami saya malah sebaliknya ustad, malah marah2 menyalahkan saya berkata2 buruk dan kasar ke saya. Suami malah makin intens berhubungan dengan selingkuhannya. Bahkan tidak pulang dan tidak ada kabar sejak 6 bulan lalu. Tidak bisa dihubungi sama sekali. Apakah suami sy yg meninggalkan saya dan anak kami, termasuk berbuat dholim?
3. Saya pernah mendengar bahwa Zina adalah hutang, kalo tidak dibayarkan oleh pelaku, akan dibayarkan oleh anak turunannya. Entah itu berzina atau dizinahi. Terus terang saya sangat khawatir dengan nasib anak perempuan saya kelak. Apakah hadits itu sahih ustad?
4. Apa beda musibah, azab dan ujian/cobaan yanh datag dari Allah?
Mohon bantuannya ustad.
Syukron
Wassalam
Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.
Semua amalan dan perbuatan manusia pasti akan diberikan balasan. Baik balasan itu disegerakan di dunia maupun ditangguhkan di akhirat kelak. Allah berfirman :
مَنْ يَعْمَلْ سÙوءًا ÙŠÙØ¬Ù’زَ بÙÙ‡Ù
“Barang siapa yang melakukan keburukan (baca:maksiat) maka dia akan mendapatkan balasan karena keburukan yang telah dilakukannya”(QS An Nisa: 123).
Ùَمَنْ يَعْمَلْ Ù…ÙØ«Ù’قَالَ ذَرَّة٠خَيْرًا يَرَه٠(7) وَمَنْ يَعْمَلْ Ù…ÙØ«Ù’قَالَ ذَرَّة٠شَرًّا يَرَه٠(8)
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)
Dan semua akibat amalan dan perbuatan akan kembali kepada dirinya sendiri. Akibat buruk tidak akan ditimpahkan dan ditanggung oleh orang lain. Misalnya, jika ada seorang anak menjadi pezina, itu bukan akibat orang tuanya menjadi pezina. Jika suami berzina itu bukan akibat istrinya berzina atau sebaliknya. Perbuatan buruk seseorang disebabkan oleh dirinya sendiri yang tidak taat kepada aturan yang ditetapkan. Allah swt berfirman.
Ùلْ أَغَيْرَ اللَّه٠أَبْغÙÙŠ رَبًّا ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ رَبÙÙ‘ ÙƒÙÙ„ÙÙ‘ شَيْء٠وَلا ØªÙŽÙƒÙ’Ø³ÙØ¨Ù ÙƒÙÙ„ÙÙ‘ Ù†ÙŽÙْس٠إÙلا عَلَيْهَا وَلا ØªÙŽØ²ÙØ±Ù ÙˆÙŽØ§Ø²ÙØ±ÙŽØ©ÙŒ ÙˆÙØ²Ù’رَ Ø£ÙØ®Ù’رَى Ø«ÙÙ…ÙŽÙ‘ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ رَبÙّكÙمْ Ù…ÙŽØ±Ù’Ø¬ÙØ¹ÙÙƒÙمْ ÙÙŽÙŠÙنَبÙّئÙÙƒÙمْ بÙمَا ÙƒÙنْتÙمْ ÙÙيه٠تَخْتَلÙÙÙونَ
Artinya: “Katakanlah: Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”.“Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”.(Qs. Al An’am 164)
Untuk pertanyaan diatas akan dijawab sesuai poin berikut ini:
Allah berfirman:
Ù†ÙŽÙ‚Ùول٠لÙلَّذÙينَ ظَلَمÙوا ذÙوقÙوا عَذَابَ النَّار٠الَّتÙÙŠ ÙƒÙنتÙÙ… بÙهَا تÙÙƒÙŽØ°Ù‘ÙØ¨Ùونَ
“Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu”” (QS. Saba: 40).
مَا Ù„ÙلظَّالÙÙ…Ùينَ Ù…Ùنْ ØÙŽÙ…Ùيم٠وَلا Ø´ÙŽÙÙÙŠØ¹Ù ÙŠÙØ·ÙŽØ§Ø¹Ù
“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Ghafir: 18).
يَا رَسÙولَ اللَّه٠أَىّ٠النَّاس٠أَشَدّ٠بَلاَءً
« الأَنْبÙيَاء٠ثÙمَّ الأَمْثَل٠Ùَالأَمْثَل٠ÙÙŽÙŠÙØ¨Ù’تَلَى الرَّجÙل٠عَلَى ØÙŽØ³ÙŽØ¨Ù دÙينÙÙ‡Ù ÙÙŽØ¥Ùنْ كَانَ دÙينÙه٠صÙلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤÙÙ‡Ù ÙˆÙŽØ¥Ùنْ كَانَ ÙÙÙ‰ دÙينÙه٠رÙقَّةٌ ابْتÙÙ„ÙÙ‰ÙŽ عَلَى ØÙŽØ³ÙŽØ¨Ù دÙينÙÙ‡Ù Ùَمَا يَبْرَØÙ Ø§Ù„Ù’Ø¨ÙŽÙ„Ø§ÙŽØ¡Ù Ø¨ÙØ§Ù„ْعَبْد٠ØÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ يَتْرÙكَه٠يَمْشÙÙ‰ عَلَى الأَرْض٠مَا عَلَيْه٠خَطÙيئَةٌ »
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, akai a akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HrTirmidzi)
Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi. (QS Annisa 79)
Rasulullah saw bersabda:
ما يصيب المؤمن من شوكة Ùما Ùوقها إلا Ø±ÙØ¹Ù‡ الله بها درجة أو ØØ· عنه خطيئة
“Tidaklah menimpa seorang mukmin sebuah musibah, duri atau musibah yang lebih besar dari itu kecuali Allah akan mengangkat derajatnya atau menggugurkan dosanya”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙ†Ù€Ù€Ù€ÙØ°ÙيۡقَنَّهÙÙ…Û¡ مّÙÙ†ÙŽ الۡعَذَاب٠الۡاَدۡنٰى دÙÙˆÛ¡Ù†ÙŽ الۡعَذَاب٠الۡاَكۡبَر٠لَعَلَّهÙÙ…Û¡ ÙŠÙŽØ±Û¡Ø¬ÙØ¹ÙÙˆÛ¡Ù†ÙŽ
Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Qs assajdah 21)
Wallahu a’lam bishowab (as)