Azab Allah

Lain-lain, 5 November 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum,

Pak ustad, sekitar 1 taun yang lalu saya pernah melakukan dosa besar, berzina dengan suami orang. Saya sudah berkeluarga. Dan saat ini, suami saya kedapatan selingkuh dan berzina dengan perempuan lain. Perselingkuhan mereka sudah berlangsung lama, sekitar 1 tahun lebih.

Saya pernah mendengar, istri adalah cerminan suami. Dan di setiap rumah tangga, apabila ada yang berlaku maksiat, pintu maksiat akan terbuka untuk anggota keluarga lain.

Yang ingin saya tanyakan:

1. Apakah yg menimpa saya akibat dr perbuatan dosa yang saya/suami lakukan? Apakah ini merupakan azab/hukuman dari Allah?

2. Saya sdh bertobat dg taubatan nasuha. Sy mnyesal dan berjanji tdk akn mengulangi lagi. Tapi suami saya malah sebaliknya ustad, malah marah2 menyalahkan saya  berkata2 buruk dan kasar ke saya. Suami malah makin intens berhubungan dengan selingkuhannya. Bahkan tidak pulang dan tidak ada kabar sejak 6 bulan lalu. Tidak bisa dihubungi sama sekali. Apakah suami sy yg meninggalkan saya dan anak kami, termasuk berbuat dholim?

3. Saya pernah mendengar bahwa Zina adalah hutang, kalo tidak dibayarkan oleh pelaku, akan dibayarkan oleh anak turunannya. Entah itu berzina atau dizinahi. Terus terang saya sangat khawatir dengan nasib anak perempuan saya kelak. Apakah hadits  itu sahih ustad?

4. Apa beda musibah, azab dan ujian/cobaan yanh datag dari Allah?

 

Mohon bantuannya ustad.

Syukron

Wassalam



-- Dita (Bandung)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Semua amalan dan perbuatan manusia pasti akan diberikan balasan. Baik balasan itu disegerakan di dunia maupun ditangguhkan di akhirat kelak. Allah berfirman :

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

Barang siapa yang melakukan keburukan (baca:maksiat) maka dia akan mendapatkan balasan karena keburukan yang telah dilakukannya”(QS An Nisa: 123).

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)

Dan semua akibat amalan dan perbuatan akan kembali kepada dirinya sendiri. Akibat buruk tidak akan ditimpahkan dan ditanggung oleh orang lain. Misalnya, jika ada seorang anak menjadi pezina, itu bukan akibat orang tuanya menjadi pezina. Jika suami berzina itu bukan akibat istrinya berzina atau sebaliknya. Perbuatan buruk seseorang disebabkan oleh dirinya sendiri yang tidak taat kepada aturan yang ditetapkan. Allah swt berfirman.

ُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya: “Katakanlah: Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”.“Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”.(Qs. Al An’am 164)

Untuk pertanyaan diatas akan dijawab sesuai poin berikut ini:

  1. Perbuatan zina yang Anda atau suami lakukan bukan merupakan sebab dan akibat. Semua perbuatan itu berdiri sendiri dan bukan merupakan akibat dari perbuatan orang lain.
  2. Suami Anda telah berbuat dhalim dengan meninggalkan Anda dan anak-anak. Dia telah menelantarkan keluarga yang mejadi tanggung jawabnya. Berdosa berlipat ganda, berdosa karena tidak memenuhi hak istri dan anak, dan berdosa kepada Allah karena berzina.

Allah berfirman:

نَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ 

Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu”” (QS. Saba: 40).

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلا شَفِيعٍ يُطَاعُ 

Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Ghafir: 18).

  1. Kami belum pernah menemukan adanya hadits yang menyatakan bahwa zina itu adalah hutang. Jika zina adalah hutang yang harus dibayar dengan perbuat zina atau dizinai, hal itu berarti orang lain menanggung akibat buruk dari kesalahan orang lain. Hal ini bertentangan dengan dalil diatas, bahwa perbuatan buruk itu akibatnya akan kembali kepada diri sendiri. Dalam islam tidak dikenal dengan dosa warisan, atau karma dari perbuatan buruk orang lain, semua orang menerima akibat perbbuatannya sendiri.
  2. Berikut perbedaan tiga istilah itu:
  3. Ujian atau bala’ adalah kenikmatan atau kesusahan yang Allah berikan kepada hambaNya untuk mengujinya apakah dia bersyukur atas ujian nikmat yang diberikan atau dia bersabar atas kesusahan yang menimpanya dan dengan itu Allah akan angkat derajatnya. Ujian atau bala’ berat dan ringannya tergantung kwalitas pribadinya. Karena itu ujian yang paling berat diberikan kepada para nabi. Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, akai a akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HrTirmidzi)

  1. Musibah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan yang Allah berikan sebagai teguran agar kembali kepada jalan yang benar. Jika ridha Allah akan berikan kepada kebaikan berupa terangkatnya derajat, dan musibah itu terjadi akibat perbuatan pelakunya, Allah berfirman :

    مَاۤ اَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ‌ وَمَاۤ اَصَابَكَ مِنۡ سَيِّئَةٍ فَمِنۡ نَّـفۡسِكَ‌ Ø• وَاَرۡسَلۡنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوۡلًا‌ Ø• وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيۡدًا

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi. (QS Annisa 79)

Rasulullah saw bersabda:

 Ù…ا يصيب المؤمن من شوكة فما فوقها إلا رفعه الله بها درجة أو حط عنه خطيئة

“Tidaklah menimpa seorang mukmin sebuah musibah, duri atau musibah yang lebih besar dari itu kecuali Allah akan mengangkat derajatnya atau menggugurkan dosanya”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

  1. Adzab adalah siksaan untuk orang kafir baik di dunia maupun di akhirat.


وَلَنـــُذِيۡقَنَّهُمۡ مِّنَ الۡعَذَابِ الۡاَدۡنٰى دُوۡنَ الۡعَذَابِ الۡاَكۡبَرِ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ

Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Qs assajdah 21)

Wallahu a’lam bishowab (as)



-- Amin Syukroni, Lc