Assalamualaikum ustad,
Saya seorang ibu 1 anak. Saya sudah berumahtangga selama 16 tahun.
Ustad, suami saya sering sekali bilang kalo saya istri yang tidak patuh, sering ngambek, dan melawannya. Pdahal yang saya lakukan adalah berusah untuk membenarkan/menasehati apa yang diucapkan/dilakukan. Saya selalu mengingatkan jika suami melakukan kesalahan-kesalahan, mengajaknya sholat, atau apapun untuk tujuan kebaikan.
Saya memang bukan istri yang sempurna ustad, saya mengakui saya banyak kekurangan. Tapi saya selalu berusaha memenuhi kewajiban saya kepada suami, dari mulai suami bangun tidur sampai tidur lagi.
Soal melawan suami, awalnya saya selalu mengingatkan dengan kata2 yang lembut, sekali, dua kali, saya masih sabar. Bahkan kadang saya diamkan. Tapi lama kelamaan, saya tidak sabar dan kadang meninggikan suara saya. Entah itu untuk persoalan kecil, sampai urusan agama.
Suami saya sangat susah untuk diajak sholat. Saya kadang jengkel waktu suami saya diajak untuk melaksanakn sholat atau ibadah lain, tidak mau melakukannya. Kalo saya sudah meninggikan suara saking jengkelnya, baru suami bergerak. Itupun dibarengi dengan marah2 dan menyalahkan saya.
Puncaknya, suatu malam kami bertengkar, karena saya "mendatangi" suami, tapi suami tidak mau meladeni. Saya ngambek ustad. Akhirnya kami bertengkar malam itu.
Paginya, saya sudah meminta maaf pada suami dan suami juga menanggapinya dengan baik. Tapi ternyata, pagi itu adalah pertemuan kami yang terakhir. Suami pergi dari rumah tanpa pamit dan udzur yang jelas.
Hari kedua suami pergi, saya masih bisa menghubungi suami, dan dia bilang saya dan suami harus instropeksi diri masing2. Karena suami merasa saya selalu merendahkannya, meremehkannya, intinya menyalahkan saya atas apa yang terjadi.
Setelah itu, suami sama sekali tidak bisa dihubungi. Sudah masuk bulan kedua. Keluarga suami juga tidak tahu dimana keberadaannya. Saya sudah berusaha semampu saya untuk mencari suami saya, tapi belum membuahkan hasil.
1. Ustad, melihat kondisi tersebut, apakah saya termasuk istri nusyuz? Saya sangat takut Allah tidak ridho pada saya, karena ridho Allah ada pada ridho suami. Saya takut Allah akan murka kepada saya ustazah.
2. Apakah suami saya telah berlaku dholim dengan meninggalkan saya dan anak tanpa pamit, tanpa udzur yang jelas, dan tanpa memberikan nafkah lahir batin?
3. Apa yang harus saya lakukan menghadapi situasi semacam ini? Saya sangat bingung, ustad. Mohon pencerahannya.
Terima kasih ustad.
Wassalamualaikum.
Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.
Menikah telah menyempurnakan separo atau setengah agama. Sementara setengah yang lain disempurnakan melalui kehidupan berkeluarga, yang jangka waktunya tidak bisa dipastikan. Gelombang kehidupan ibarat gelombang lautan,kadang naik dan tinggi,tapi kadang tenang dan terkendali.
Menjalani kehidupan berkeluarga selama 16 tahun merupakan waktu yang cukup untuk saling mengenal dan memahami pasangan masing-masing, baik dari sisi cara berkomunikasi,cara menyelesaikan masalah dan sebagainya.
Kehidupan berkeluarga diawali dengan saling mengenal. Mengenali kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan jujur. Perkenalan akan membuat kedua pasangan bisa saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ketika seseorang telah saling memahami,biasanya akan mudah saling membantu dalam segala urusan dan saling meringankan beban.
Satu hal yang harus menjadi evaluasi Anda adalah,kenapa suami Anda menilai Anda istri yang tidak patuh, sering ngambek, dan melawannya, padahal apa yang Anda lakukan tidak ada yang negatif ? mulai melayani kebutuhanya setiap hari hingga menegurnya untuk beribadah. Kenapa dia pergi tanpa pesan dan tanpa pamit justru setelah masalah selesai dan pertengkaran sudah reda? Cobalah pelajari kepribadian laki-laki agar Anda lebih memahami bagaimana berlaku kepada suami Anda lebih bijak.
Untuk menjawab pertanyaan diatas bisa kami sampaiakan beberapa hal berikut:
Ø§Ù„Ø±Ù‘ÙØ¬ÙŽØ§Ù„٠قَوَّامÙونَ عَلَى Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙØ³ÙŽØ§Ø¡Ù بÙمَا Ùَضَّلَ اللَّه٠بَعْضَهÙمْ عَلَىٰ بَعْض٠وَبÙمَا أَنْÙÙŽÙ‚Ùوا Ù…Ùنْ أَمْوَالÙÙ‡Ùمْ Ûš ÙÙŽØ§Ù„ØµÙ‘ÙŽØ§Ù„ÙØÙŽØ§ØªÙ Ù‚ÙŽØ§Ù†ÙØªÙŽØ§ØªÙŒ ØÙŽØ§ÙÙØ¸ÙŽØ§ØªÙŒ Ù„Ùلْغَيْب٠بÙمَا ØÙŽÙÙØ¸ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ûš وَاللَّاتÙÙŠ تَخَاÙÙونَ Ù†ÙØ´ÙوزَهÙنَّ ÙÙŽØ¹ÙØ¸ÙوهÙنَّ ÙˆÙŽØ§Ù‡Ù’Ø¬ÙØ±ÙوهÙنَّ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽØ¶ÙŽØ§Ø¬ÙØ¹Ù ÙˆÙŽØ§Ø¶Ù’Ø±ÙØ¨ÙوهÙنَّ Û– ÙÙŽØ¥Ùنْ أَطَعْنَكÙمْ Ùَلَا تَبْغÙوا عَلَيْهÙنَّ سَبÙيلًا Û— Ø¥Ùنَّ اللَّهَ كَانَ عَلÙيًّا كَبÙيرًا
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Maha-besar.” [An-Nisaa’/4: 34].
يَا أَيّÙهَا الَّذÙينَ آمَنÙوا Ù‚Ùوا أَنْÙÙØ³ÙŽÙƒÙمْ وَأَهْلÙيكÙمْ نَارًا ÙˆÙŽÙ‚ÙودÙهَا النَّاس٠وَالْØÙجَارَة٠عَلَيْهَا مَلَائÙكَةٌ غÙلَاظٌ Ø´ÙØ¯ÙŽØ§Ø¯ÙŒ لَا يَعْصÙونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهÙمْ ÙˆÙŽÙŠÙŽÙْعَلÙونَ مَا ÙŠÙØ¤Ù’مَرÙونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[at-Tahrîm/66:6]
وَاسْتَعÙينÙوا Ø¨ÙØ§Ù„صَّبْر٠وَالصَّلَاة٠وَإÙنَّهَا لَكَبÙيرَةٌ Ø¥Ùلَّا عَلَى Ø§Ù„Ù’Ø®ÙŽØ§Ø´ÙØ¹Ùينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)
3. Berdoalah kepada Allah agar Allah mengembalikan suami Anda. Doalah adalah senjata seorang mukmin. Allah berjanji akan mengabulkan doa hambaNya.
4.Jika suami Anda nantinya datang kembali ke rumah, sambutlah dia dengan baik dan mulailah kehidupan keluarga dengan kehidupan dan cara yang baru.
Itu saran yang bisa kami sampaikan semoga masalah dalam keluarga Anda segera selesai dan mengembalikan suasana sakinah mawaddah dan rahmah ke dalam keluarga Anda. Allahumma aamiin. Wallahu a’lam bishowab. (as)