Suami Egois

Pernikahan & Keluarga, 28 November 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum. Nama saya gita. Umur 30 tahun. Saya sudah menikah selama 5 tahun, namun semakin hari suami saya semakin kasar dan egois serta terlalu dominan dalam rumah tangga bahkan hingga urusan dapur.

Setiap mendapatkan gaji suami sy selalu memeriksa rincian belanja dapur. Bahkan belanja beras pin sy hrs dgn perstujuannya

Kali ini sy sudah sulit utk membendung kekecewaan. Saya baru sj diterima bekerja di sebuah perusahaan, tetapi suami sy bahkan mengatur gaji sy utk membeli motor sport impiannya sedangkan saya sendiri membutuhkan uang utk membantu ibu sy di kampung yg hidup kesusahan dan terlilit hutang.

Apa yg hrs sy lakukan utk menghadapi sikap suami sy? Jika sy menentang suami sy akan marah bahkan bisa sampai melakukan hal kasar kepada sy. Mohon bantuannya.

Terima kasih 🙏



-- Gita (Bandung)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa dengan menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah anda dengan suami tersebut berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami dan saya melihat sepertinya sangat diperlukan hadirnya fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi, sekaligus memberikan nasihat kepada suami anda secara khusus dalam upaya bersama mencari solusi terbaik

Disamping upaya tersebut, ada hal mesti anda lakukan yaitu mendekat kepada Allah dengan optimal, memohon agar Allah berkenan membuka hati suami anda dan berkenan untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga anda

Kalau upaya optimal sudah anda lakukan, tetapi suami tetap dengan sikapnya, maka barangkali cerai menjadi alternatif terakhir yang bisa anda pilih.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA