Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
izin bertanya ustad/ustadzahðŸ™ðŸ»
apa benar dirakaat ketiga dan keempat apa masih wajib baca surat pendek? Soalnya pernh liat di youtube katanya dirakaat ke 3 dan ke empat cukup baca alfatihah saja?
Syukron jazakillahu khairanðŸ™ðŸ»
iny-jatim
Wa';laikumussalaam wrwb.
Ada beberapa hadis perihal yang anda tanyakan :
Pertama, hadits dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
أَنَّ النَّبÙىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقْرَأ٠ÙÙÙ‰ الظّÙهْر٠ÙÙÙ‰ الأÙÙˆÙ„ÙŽÙŠÙŽÙŠÙ’Ù†Ù Ø¨ÙØ£ÙÙ…Ù‘Ù Ø§Ù„Ù’ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù وَسÙورَتَيْن٠، ÙˆÙŽÙÙÙ‰ Ø§Ù„Ø±Ù‘ÙŽÙƒÙ’Ø¹ÙŽØªÙŽÙŠÙ’Ù†Ù Ø§Ù„Ø£ÙØ®Ù’Ø±ÙŽÙŠÙŽÙŠÙ’Ù†Ù Ø¨ÙØ£ÙÙ…Ù‘Ù Ø§Ù„Ù’ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù ØŒ ÙˆÙŽÙŠÙØ³Ù’Ù…ÙØ¹Ùنَا الآيَةَ ØŒ ÙˆÙŽÙŠÙØ·ÙŽÙˆÙ‘ÙÙ„Ù ÙÙÙ‰ الرَّكْعَة٠الأÙولَى مَا لاَ ÙŠÙØ·ÙŽÙˆÙ‘ÙÙ„Ù ÙÙÙ‰ الرَّكْعَة٠الثَّانÙيَة٠، وَهَكَذَا ÙÙÙ‰ الْعَصْر٠وَهَكَذَا ÙÙÙ‰ Ø§Ù„ØµÙ‘ÙØ¨Ù’ØÙ
Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat dzuhur, di dua rakaat pertama beliau membaca al-Fatihah dan dua surat. Sementara di dua rakaat terakhir beliau membaca al-Fatihah. Beliau membacanya hingga kami terdengar ayat. Beliau baca lebih panjang di rakaat pertama, tidak sepanjang di rakaat kedua. Demikian pula ketika shalat asar dan subuh. (HR. Bukhari 776 & Muslim 1041).
Kedua, hadits dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
ÙƒÙنَّا Ù†ÙŽØÙ’Ø²ÙØ±Ù Ù‚Ùيَامَ رَسÙول٠اَللَّه٠– صلى الله عليه وسلم – ÙÙÙŠ اَلظّÙهْر٠وَالْعَصْر٠, ÙÙŽØÙŽØ²ÙŽØ±Ù’نَا Ù‚Ùيَامَه٠ÙÙÙŠ اَلرَّكْعَتَيْن٠اَلْأÙولَيَيْن٠مÙنْ اَلظّÙهْر٠قَدْرَ : (الم تَنْزÙيلÙ) اَلسَّجْدَة٠. ÙˆÙŽÙÙÙŠ Ø§ÙŽÙ„Ù’Ø£ÙØ®Ù’رَيَيْن٠قَدْرَ Ø§ÙŽÙ„Ù†Ù‘ÙØµÙ’ÙÙ Ù…Ùنْ ذَلÙÙƒÙŽ . ÙˆÙŽÙÙÙŠ اَلْأÙولَيَيْن٠مÙنْ اَلْعَصْر٠عَلَى Ù‚ÙŽØ¯Ù’Ø±Ù Ø§ÙŽÙ„Ù’Ø£ÙØ®Ù’رَيَيْن٠مÙنْ اَلظّÙهْرÙ
Kami memperhatikan berdirinya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat dzuhur dan asar. Kami perhatikan berdiri beliau di dua rakaat pertama shalat dzuhur panjangnya sekitar surat as-Sajdah. Sementara di dua rakaat terakhir setengahnya. Sementara di dua rakaat pertama shalat asar, seperti dua rakaat terakhir shalat dzuhur. (HR. Muslim 452).
Ketiga, diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwatha’ bahwa Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu, di rakaat ketiga shalat maghrib beliau membaca al-Fatihah alu dilanjutkan dengan ayat (QS. Ali Imran: 8) berikut:
رَبَّنَا لَا ØªÙØ²Ùغْ Ù‚ÙÙ„Ùوبَنَا بَعْدَ Ø¥ÙØ°Ù’ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا Ù…Ùنْ لَدÙنْكَ رَØÙ’مَةً Ø¥Ùنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابÙ
(Al-Muwatha’, 178).
Dengan memperhatikan beberapa hadits tentang masalah ini, ulama berbeda pedapat tentang membaca surat setelah al-Fatihah di rakaat ketiga dan keempat. Perbedaan ini hanya berkisar, mana yang lebih sesuai sunnah di rakaat ketiga dan keempat, apakah cukup membaca al-Fatihah ataukah dianjurkan untuk ditambahi surat lain.
Imam Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya mengatakan,
Ø¥Ø¨Ø§ØØ© القراءة ÙÙŠ الأخريين من الظهر والعصر بأكثر من ÙØ§ØªØØ© الكتاب وهذا من Ø§Ø®ØªÙ„Ø§Ù Ø§Ù„Ù…Ø¨Ø§Ø Ù„Ø§ من اختلا٠الذي يكون Ø£ØØ¯Ù‡Ù…ا Ù…ØØ¸ÙˆØ±Ø§ والأخر Ù…Ø¨Ø§ØØ§ ÙØ¬Ø§Ø¦Ø² أن يقرأ ÙÙŠ الأخريين ÙÙŠ كل ركعة Ø¨ÙØ§ØªØØ© Ùيقتصر من القراءة عليها ÙˆÙ…Ø¨Ø§Ø Ø£Ù† يزاد ÙÙŠ الأخريين على ÙØ§ØªØØ© الكتاب
Boleh membaca di dua rakaat terahir untuk shalat dzuhur dan asar lebih dari surat al-Fatihah. Ini termasuk perbedaan pendapat ulama yang sifatnya mubah. Bukan perbedaan yang satu hukumnya terlarang dan yang satu mubah. Boleh saja di dua rakaat terakhir, pada masing-masing rakaat seseorang membaca al-Fatihah saja. Boleh juga di dua rakaat terakhir dia tambahi dengan surat lain setelah al-Fatihah. (Shahih Ibnu Khuzaimah, 1/256).
Karena itulah, Abul Hasanat al-Laknawi (w. 1304 H) mengingkari pendapat sebagian ulama yang menganjurkan sujud sahwi bagi orang yang membaca surat setelah bacaan al-Fatihah di rakaat ketiga dan keempat.
Dalam kitabnnya at-Ta’liq al-Mumajjad, beliau mengatakan,
وأغرب بعض Ø£ØµØØ§Ø¨Ù†Ø§ ØÙŠØ« ØÙƒÙ…وا على وجوب سجود السهو بقراءة سورة ÙÙŠ الأخريين، وقد ردَّه Ø´Ø±Ø§Ø “المنية” – إبراهيم الØÙ„بي وابن أمير ØØ§Ø¬ الØÙ„بي وغيرهما – Ø¨Ø£ØØ³Ù† ردّ ولا أشكّ٠ÙÙŠ أن من قال بذلك لم يبلغه Ø§Ù„ØØ¯ÙŠØ«ØŒ ولو بلغه لم يتÙوَّه به
Yang aneh, pendapat sebagian madzhab kami (hanafi) yang mewajibkan sujud sahwi karena membaca surat di dua rakaat terakhir. Pendapat ini telah dibantah dengan bagus oleh para ulama yang mensyarah kitab al-Maniyah, seperti Ibrahim al-Halabi, Ibnu Amir al-Hal al-Halabi, dan ulama lainnya. Kita sangat yakin, orang yang berpendapat demikian, karena belum sampai kepadanya hadis. Andai telah sampai kepadanya hadis, tentu dia tidak akan mengucapkan demikian. (at-Ta’liq al-Mumajjad, 1/440).
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka bisa disimpulkan bahwa membaya ayat Al Qur'an pada rakaat ketiga dan keempat itu adalah mubah hukumnya
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.