Assalamu'alaykum pak ustadz/bu ustadzah. Saya berumah tangga sudah 10 tahun. Ditahun ke 5 saya mendapati suami memiliki handphone lain yang disembunyikan dari saya. Sudah pasti isinya hal2 yg tidak baik. Kemudian saya bertengkar pada saat itu. Namun karena alasan masih ingin mencoba mempertahankan rumah tangga saya, kami kembali berbaikan.
Tetapi kebohongan-kebohongan lain tetap saja dilakukan. Kebohongan walaupun kecil tetap saja namanya bohong dan tidak baik. Hal itu membuat saya overthinking tentang suami. Membuat saya menjadi curiga setiap hari dan itu melelahkan. Saya jadi tidak bisa membedakan mana perkataan benar dan bohong. Saya kehilangan kepercayaan terhadap suami.
Adakah cara agar saya bisa membangun kepercayaan terhadap suami saya lagi?
Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.
Kami memahami jika anda merasa marah, curiga dan overthinking kepada suami anda disebabkan masalah yang terjadi lima tahun lalu. Dimana suami anda memiliki HP yang lain selain yang biasa dia pakai. Hal itu membuat anda terus curiga dengan suami anda.
Masalah yang terjadi lima tahun lalu jika segera diselesaikan tentu akan melegakan hati dan tidak akan menambah ketidak percayaan anda kepada suami. Tapi kerena tidak ada penyelesaian yang baik, maka anda jadi sangat sensitif dengan kebohongan suami anda. kebohongan yang kecilpun terasa besar dan menyakitkan. Dan sikap benar dan jujur dari suamipun anda anggap bohong.
Rasa curiga yang melelahkan itu, sebagai akibat sikap anda sendiri yang terus menerus memupuk kecurigaan pada setiap tindakan suami anda,sehingga anda tidak lagi bisa membedakan mana perkataan dan sikap jujur dan bohong. Rasa curiga yang berlebihan hingga melelahkan jiwa dan pikiran anda itu tidak akan hilang jika anda sendiri tidak mengubah sikap anda. yaitu sikap curiga diganti dengan sikap percaya dan rilek terhadap suami.
Berikut beberapa hal yang bisa anda coba anda lakukan untuk menghilangkan rasa curiga itu:
Karena itu selama anda tidak mendapai bukti nyata bahwa suami anda berbohong, maka sikap percaya kepadanya harus menjadi sikap dasar anda kepadanya. Manusia hanya diminta menghukumi apa yang dhahir dan nyata saja, sementara apa yang tidak kelihatan dan tidak nyata diserahkan urusannya kepada Allah.
Lihatlah kebaikan dan kejujurannya daripada melihat kebohongannya. Kita harus menghukumi berdasarkan apa yang dhahir, sementara yang batin atau tersembunyi kita serahkan kepada Allah. Karena itu Rasulullah marah kepada sahabat Usamah bin Zaid yang membunuh orang yang telah mengucapkan laa ilaaha illa allah yang diduga dia mengucapkan kalimat hanya karena takut dibunuh.
« أَقَالَ لاَ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥Ùلاَّ اللَّه٠وَقَتَلْتَه٠». قَالَ Ù‚Ùلْت٠يَا رَسÙولَ اللَّه٠إÙنَّمَا قَالَهَا خَوْÙًا Ù…ÙÙ†ÙŽ السّÙلاَØÙ. قَالَ « Ø£ÙŽÙَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبÙÙ‡Ù ØÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ ». Ùَمَازَالَ ÙŠÙÙƒÙŽØ±Ù‘ÙØ±Ùهَا عَلَىَّ ØÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ تَمَنَّيْت٠أَنّÙÙ‰ Ø£ÙŽØ³Ù’Ù„ÙŽÙ…Ù’ØªÙ ÙŠÙŽÙˆÙ’Ù…ÙŽØ¦ÙØ°Ù
“Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” (HR. Muslim)
Karena itu jangan perturutkan rasa curiga anda, karena hal itu sangat melelahkan pikiran dan perasaan. Selama tidak ada bukti berbohong, percayailah suami anda. Selama tidak ada bukti nyata maka abaikan saja rasa curiga itu. Jangan berusaha mencari-cari kesalahan dan kepo dengan yang suami anda lakukan. Bangun sikap saling percaya dimulai dari diri sendiri.
Demikian yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)