Sakit Hati Oleh Perbuatan Orang Lain Terhadap Orang Tua Sendiri

Lain-lain, 3 Januari 2024

Pertanyaan:

assalamualaikum wr wb ustadz, izin bertanya apa hukumnya dalam islam sakit hati terhadap orang yang telah mempersulit ekonomi orang tua kita? dan apakah dalam islam sakit hati itu boleh? karena sakit hati yang sangat dalam membuat sangat susah melupakannya, namanya manusia setiap bertemu orang tersebut rasa sakit hati itu muncul kembali dan kadang tidak terbendung terlihat dari ekspresi, tapi satu sisi orang tua pun bukannya membela malah semakin menyalahkan rasa sakit hati ini. apa yang harus saya lakukan ustadz? 



-- Sofie Fauzhia (Bandung)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Sakit hati kepada orang yang telah menyakiti  kita atau orang tua kita, itu sesuatu yang wajar. Karena setiap kita tidak ingin dihina,direndahkan, dijatuhkan, dihalangi keinginannya dan sebagainya. Akan tetapi perasaan sakit yang wajar itu belum tentu benar di mata agama. Karenanya kalau ada rasa sakit dalam hati kepada  orang lain kita harus diobati.

Sakit hati itu sama dengan sakit atau luka tubuh . Jika ada luka pada tubuh kita yang menimbulkan rasa sakit, maka segera kita obati agar rasa sakit itu segera hilang dan dapat beraktifitas normal. Tidak kita biarkan sehingga luka dan rasa sakit itu menjadi semakin parah.

Sakit hati yang dibiarkan akan berdampak pada timbulnya kejahatan dan kemaksiatan dari pemilik hati yang sakit itu. Kejahatan itu contohnya keinginan untuk mencelakai orang lain, merusak orang lain,membalas dengan yang lebih berat, marah dan bentuk kejahatan lainnya.

Yang bisa menyembuhkan sakit hati itu adalah diri sendiri, bukan orang lain. Orang lain hanya bisa membantu saja memberi saran dan jalan agar terbebas dari rasa sakit hati. Berikut beberapa saran yang bisa kami sampaikan. Antara lain:

  1. Meyakini bahwasanya apa yang terjadi itu telah dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta'ala . tidak ada kebaikan dan keburukan yang menimpa seseorang kecuali atas kehendak Allah swt. Jika kita meyakini hal, maka kita akan berusaha ridha dengan ketentuan Allah itu. Dan apa yang ditentukan Allah, pasti untuk kebaikan manusia, walaupun manusia belum menyadarinya saat ini.
  2. Memikirkan dampak negatif dari rasa sakit hati kepada orang lain. Berdampak negative pada urusan dunia dan urusan akhirat. Seperti rusaknya hubungan sesame muslim, rusaknya ukhuwah islamiah, berburuk sangka, iri dan dengki kepada orang lain. Dan tak jarang sakit hati bisa menjadi sebab terjadinya sakit fisik.
  3. Ingatlah pesan Rasulullah untuk bersikap baik kepada sesame muslim dan melarang bersikap buruk kepada mereka. Rasulullah saw bersabda:

لا تَحاسدُوا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Jangan kalian saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi! dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Sakit hati tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Berlapang dada dan bersabar terhadap keburukan adalah kata kunci kebaikan. Sikap seorang mukmin, jika ditimpa kebaikan bersyukur, dan jika ditimpa keburukan dia bersabar. Dan keduanya baik untuknya. Rasulullah saw bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR.Muslim, shahih).

Demikian yang bisa disampaikan,semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc