Bertahan Atau Menyerah

Pernikahan & Keluarga, 22 Januari 2024

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz, mohon bimbingannya saya sudah menikah dengan suami alhamdulillah sudah 3 th, ustadz suami saya melarang saya untuk tidak berkunjung ke tempat kk saya dia ingin saya menjauhi kk kandung saya, terkadang saya tetap jln walau suami melarang karna saya fikir saya tidak melakukan maksiat dan alasan saya ingin membhgiakan anak juga karna, klo marah suka bicara yg tidak pantas terkadang kata binatang ada juga,  saya simpulkan dia menyesal menikah dgn saya ustadz mental saya masih kuat tapi hati saya sudah hancur, ustadz saya hrus bgaimana,? Klo saya minta ketegasan boleh tidak ustadz saya juga pgen bahagia disaya suami diperhatikan suami, mohon pendapatnya ustadz ?



-- Niya (Jakarta Timur)

Jawaban:

wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan kehidupan yang tenang, tentram dan bahagia. Kehidupan sakinah mawaddah wa rahmah. Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap pasangan harus siap mengerjakan kewajibannya dan menunaikan hak-haknya. Setiap pasangan harus siap melepaskan egonya, siap saling mengalah untuk kemenangan bersama. Bukan saling mengalahkan dan ingin menang sendiri.

Seorang wanita setelah menikah, akan mengalami beberapa perubahan yang terjadi pada dirinya, terutama terkait kebebasan untuk melakukan sesuatu atau mewujudkan keinginannya. Jika sebelum menikah, dia bebas melakukan sesuatu yang diinginkan, maka setelah menikah,kebebasan dan keinginan dibatasi oleh ijin suami dan kerelaan suami.

Beberapa perubahan yang terjadi padawanita setelah dia menikah antara lain:

  1. Taat kepada suami
  2. Tidak keluar rumah kecuali dengan ijin suami.
  3. Tidak menolak ajakan suami untuk berhubungan
  4. Tidak berpuasa Sunnah kecauli dengan ijin suami
  5. Tidak mengijinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan ijin suaminya

Terkait dengan kewajiban taat kepada suami-selama dalam kebaikan- rasulullah bersabda: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai )

Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad)

Sikap terbaik alam mensikapi larangan suami adalah taat kepada suami dan sabar menghadapi sikapnya yang kurang sesuai dengan keinginan anda. Semoga dengan ketaatan dan kesabaran, Allah bukakakan pintu hatinya untuk mengijinkan idtrinya berkunjung ke kakaknya. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc