Bismillah alhamdulillah asholatu wassalam ala rosulillah
assalamu'alaikum afwan ustadz, saya seorang akhwat punya seorang teman yang kebetulan seorang janda. teman saya ini sangat ingin menikah ustadz, tapi beliau orangnya cukup tertutup baik di lingkungan atau di media sosial. Disuatu kesempatan kami mengobrol lewat chat saya menyarankan ke beliau agar mengajukan diri lebih dulu dengan lewat perantara jika sudah ada laki2 yang disukai,saya hanya tidak ingin teman saya ini terjerumus ke hal yang tidak halal seperti pacaran,karna saya lihat beliau orangnya cukup taat. tapi subhanallah beliau malah marah dan tersinggung dengan kata2 saya beliau berkata merasa direndahkan oleha kata2 saya,terlebih mungkin karna saking marahnya sampai mengatakan bahwa perkara tersebut (wanita menawarkan diri lebih dulu) sudah ketinggalan jaman, saya sampai takut mendengarnya.
saya sudah coba berulang kali meminta maaf sampai semua akses komunikasi beliau blokir,sudah hampir setahun ini beliau tidak mau berbicara lagi dengan saya. pertanyaan saya ustadz,apa benar perkataan saya itu sudah merendahkan kehormatan beliau..?dan apakah saya berdosa karna sudah menyakiti perasaan teman saya? saya takut karna setau saya menyakiti perasaan sesama mukmin itu dosa besar,saya takut beliau tidak ridho sampai wafat. jazakumullah khair barakallahu fiikum
Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.
Tidak semua saran baik kita akan diterima dengan baik pula oleh orang lain, hal itu dikarenakan setiap orang memiliki standart nilai sendiri-sendiri. Apa yang kita nilai baki, belum tentu baik pula menurut otang lain, seperti kasus yang anda ungkap diatas.
Agar supaya anda tidak merasa bersalah dan merasa berdosa karena saran yang anda sampaikan diterima salah dan emosional oleh teman anda, maka serahkanlah urusan anda kepada Allah swt sang pemilik hati manusia, dan tidak perlu anda pikirkan sikap teman anda itu. Karena ikhtiar anda untuk menjelaskan maksud yang sesungguhnya tidak dapat diterima dengan baik.
Berpeganglah pada niat anda,karena Allah hanya menilai niat hambanya. Allah hanya melihat niat bukan melihat dampak dari perbuatan itu kepada orang lain selama perbuatan itu perbuatan baik. Rasulullah bersabda:
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Ikhtiar untuk menjelaskan maksud sudah anda lakukan, selebihnya urusan Allah swt. Karena itu anda tidak perlu merasa bersalah dan berdosa. Karena niat anda baik. wallahu a’lam bishowab. (as)