Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Izin bertanya Pak Ustadz, saya adalah seorang mualaf sejak Desember 2024 yang melakukan mualaf secara diam-diam, saya hanya berusia 16 tahun. Saya lahir di keluarga Kristen yang bisa dibilang cukup taat, namun keluarga saya selalu saling bergaduh. Saya adalah anak tunggal dari orangtua tunggal, di mana ibu saya sendiri sangat jauh dari kata religius. Keluarga saya sedari dahulu membantu kehidupan kami yang susah. Namun sejak saya mempelajari Islam (Agustus 2024), hati saya tergerak. Sampai akhirnya saya mualaf sendiri dengan bantuan internet dan gadget tanpa sepengetahuan satu orangpun. Saya bahkan menegakkan salat dan menghafal semua ayat² salat secara otodidak dan mandiri lewat handphone dan menghafal beberapa ayat sebisa saya seperti ayat kursi, Al-fatihah, dll, walau tidak terlalu banyak.
Namun pernah bukan sekali namun dua kali di bulan itu juga, mama saya mendapati saya sedang salat. Ibu saya sangat kecewa, hingga memberikan saya kekerasan secara verbal maupun non-verbal. Jujur ustadz, saya lumayan trauma akan hal tersebut, bahkan saya sudah berbicara baik² kepada ibu saya mengenai hal ini, tapi Ia menganggap ini intolerable.
Hal ini sempat membuat saya tidak shalat sama sekali hingga setengah bulan atau lebih, sampai Januari awal, saya mulai menegakkan salat 5 waktu kembali. Saya selalu mengambil kesempatan, di saat waktu ibu saya tidak sadar, dll. Masalahnya ini pak Ustadz, saya sangat merasa sedih karna tidak bisa menunaikan seluruh ibadah saya dengan baik untuk Allah. Saya terkadang salat duduk, saya sering telat salat, bahkan saya tidak jarang melewati waktu salat. Hal ini membuat saya terus merenung sedih karena saya selalu menganggap, apa bedanya diri saya dengan orang kafir?
Hal ini disebabkan karena ibu saya dan saya tinggal di kontrakan yang hanya memiliki 1 kamar, di mana saya pun tidak memiliki ruang privasi sama sekali. Percayalah ustadz, segala cara saya lakukan agar dapat menunaikan salat. Belum lagi saya orang nya kerap kali sakit, seperti diare, demam dan amandel, yang membuat saya pun bingung bagaimana bisa salat tanpa ruangan, tanpa privasi, dengan badan saya yang lemas dan ibu saya yang mengurus saya yang berpenyakit ini. Saya tidak bisa tinggalkan Islam ustadz, saya sudah merasakan anugerah-anugerah yang telah Allah berikan kepada saya.
Yang paling membuat saya selalu sangat terpukul dan sedih ialah sebentar lagi bulan Ramadhan ustadz. Saya merasa tidak berguna menjadi budak Allah jika tidak bisa menunaikan hal hal yang diperintahkan-Nya. Jika salat saja saya kesulitan untuk memenuhinya, bagaimana dengan puasa yang sambil melakukan salat juga sesuai waktunya? Saya ingin sekali merasakan indah dan nikmatnya merayakan bulan paling suci di tahun 2025 ini pak Ustadz, apalagi ini akan menjadi bulan Ramadhan pertama saya. Tolong berikan saya solusi akan masalah-masalah ini ustadz, saya sangat menyayangi ibu saya yang sedari kecil menyayangi dan mengurus saya, namun bagaimana mungkin saya sebagai hamba Allah tidak mengikuti kehendak-Nya dan perintah-perintah-Nya? Saya merasa seperti orang yang sangat munafik ustadz. Maaf jikalau ini sangat panjang ustadz, saya sangat membutuhkan jawaban, terima kasih, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
silahkan lakukan konsultasi via online di wa 081703357795