Mencari Pertimbangan


Pertanyaan:

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

ustad/ustazah. saya ingin berkonsultasi mesalah pernikahan saya yang sudah berjalan selama 20 tahun. selama ini suami selalu bersikap seenaknya, kalau ada hal yg dy tidak suka atau sesuatu yang salah sy lakukan, dia akan mendiamkan saya berhari-hari, seperti menghukum saya, nanti kalau keadaan sudah baik-baik saja, dia akan baik lagi, tapi tidak bertahan lama, kalau ada kesalahan dr saya, baik dr tingkah, perbuatan atau perkataan, dy akan kembali marah berhari-hari.

suami saya juga sudah pernah nikah siri dengan perempuan lain, dy berdalih mreka bikin usaha bareng, itu karena waktu itu saya ga mau diajak usaha sama suami, suami saya pernah nganggur selama bbrp tahun, dn sy bekerja sebagai guru, yg membanting tulang menggantikan dy, untuk anak, orang tua, intinya apapun sy kerjakan demi di rumah berkecukupan. singkat cerita sy sudah cape menghadapi sikapnya yang semena-mena memperlakukan sy dengan silent tratment nya, sy yg harus memahami dy, harus mengerti dia maunya apa, tanpa dia memberitahu saya. dalam situasi seperti ini apakah salah jika sy ingin mengajukan perpisahan? sy punya anak 2, umur 19 dan 15 tahun, laki dan perempuan. mohon bantuannya ustad/ustazah. 
Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh



-- Ernalita (Bekasi)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Anda dan suami telah mengarungi mahligai rumah tangga selama 20 tahun dan telah dianugerahi dua orang anak yang kini berusia 19 tahun dan 15 tahun. Ini adalah usia pernikahan yang sudah cukup matang. Manis dan pahitnya kehidupan rumah tangga tentu telah banyak dilalui bersama dengan penuh kesabaran, termasuk menerima keadaan suami yang memiliki karakter suka mendiamkan Anda ketika marah.

Jika hari ini karakter tersebut mulai menjadi masalah bagi Anda, lalu kekurangan-kekurangan suami yang lain ikut terasa berat karena Anda berharap sikapnya berubah, maka perlu dipahami bahwa mengubah karakter yang telah lama melekat pada seseorang bukanlah perkara mudah. Bukankah lebih baik jika sudut pandang Anda yang diubah ketika ternyata karakter suami sulit untuk diubah? Dalam keadaan seperti ini, terkadang mengalah untuk berubah menjadi pilihan yang lebih ringan dan lebih bijak.

Untuk membantu mengubah cara pandang Anda terhadap suami dan meringankan beban perasaan dalam menghadapi sikapnya, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:

  1. Sikapilah karakter suami tersebut sebagai karakter yang sulit diubah. Dengan begitu, Anda tidak terus-menerus memikirkan cara mengubahnya. Hadapilah sebagaimana menghadapi sesuatu yang memang sudah menjadi tabiat seseorang. Abaikan hal-hal yang tidak perlu dipermasalahkan dan anggap itu sebagai sesuatu yang wajar darinya. Katakan dalam hati, “Memang dia seperti itu.” Jangan terlalu dipikirkan hingga membebani hati. Sikapi dengan lebih santai.
  2. Lihatlah sisi positif suami Anda. Memang ada sisi negatif yang membuat Anda kecewa dan tidak nyaman, tetapi jika Anda lebih fokus pada kelebihannya, maka kekurangannya akan lebih mudah ditoleransi dan dimaafkan. Sebaliknya, jika Anda terus fokus pada kekurangannya, maka kelebihannya akan tertutup dan kekurangannya akan tampak semakin besar serta sulit dimaafkan.
  3. Pikirkan dampak negatif yang mungkin menimpa anak-anak jika terjadi perceraian. Apakah anak-anak Anda yang sudah beranjak remaja dan dewasa mampu menerima perpisahan kedua orang tuanya? Memang mempertahankan rumah tangga demi anak bukan perkara ringan, tetapi keutuhan keluarga memang harus diperjuangkan semampunya.
  4. Mintalah bantuan kepada orang yang memiliki pengaruh terhadap suami Anda. Mintalah kepadanya untuk menasihati suami agar dapat mengurangi sikap buruk tersebut. Bisa jadi melalui perantara orang ketiga, suami Anda lebih mudah menerima nasihat dan perlahan berubah menjadi lebih baik.
  5. Perceraian adalah salah satu keberhasilan terbesar iblis dalam menggoda manusia. Karena itu, lawanlah godaan tersebut. Iblis akan menghiasi dalam pikiran bahwa berpisah terasa lebih nyaman daripada bertahan bersama pasangan yang memiliki karakter kurang baik.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lain dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya sampai aku berhasil memisahkan antara dia dengan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkannya dan berkata, ‘Sungguh hebat engkau.’” (HR. Muslim)

  1. Bila semua saran di atas belum mampu menenangkan hati Anda dan keinginan untuk berpisah masih sangat kuat, maka libatkan Allah dalam menentukan pilihan terbaik dengan melaksanakan shalat istikharah. Semoga melalui istikharah, Allah memberikan ketenangan hati dan petunjuk terbaik bagi kehidupan Anda.

Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc