Fikih Cerai


Pertanyaan:

Asalaamualaikum 
Saat saya ngobrol sama istri Saya bilang ke istri dalam bahasa jawa AKU TEK KOYO RA PENGEN YO DEK ,KOYO RODOK BOSEN YO DEK BERHUBUNGAN artinya AKU KOK SEPERTI GAK PENGEN YA, KAYAK AGAK BOSAN YA DEK BERHUBUNGAN yang di maksud kata berhubungan di sini adalah BERHUBUNGAN INTIM, bukan hubungan pernikahan dan saat saya berucap, AKU TEK KOYO RA PENGEN YO,KOYO RODOK BOSEN YO DEK BERHUBUNGAN artinya AKU KOK SEPERTI GAK PENGEN YA KAYAK AGAK BOSAN YA DEK BERHUBUNGAN tiba tiba bebarengan hati berucap cerai, tapi ucapan di hati CERAI.saja atau KAMU AKU CERAI saya lupa, dan ucapan di hati ini seperti datang sendiri ,Tapi saya gak ada maksud dan tujuan mentalak tujuan saya hanya crita dan bercanda saja sama istri saja.
Pertanyaan
1.Apakah jatuh talak kasus saya ini.
2 apakah ucapan hati saya tadi adalah niat tapi kalo niat itu di luar kemauan saya saya gak ada tujuan mencerai Cuma cerita dan bercanda sama istri. Mohon penjelasane
3.saya ingin mengabaikan was was tapi setiap ada kata yg berbau talak hati langsung berucap talak sendiri .mohon nasihatnya.



-- Adn (Surakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Menanggapi pertanyaan di atas, dapat kami berikan jawaban sebagai berikut:

  1. Pada dialog yang Anda lakukan dengan istri tersebut, tidak ada kalimat yang mengandung ungkapan talak. Ucapan tersebut lebih menunjukkan ungkapan perasaan bahwa Anda merasa sedikit bosan dengan pola hubungan intim yang dijalani bersama istri.

Talak harus dijatuhkan dengan ungkapan yang menunjukkan bahwa suami menceraikan istrinya, baik secara sharih (jelas dan tegas), seperti: “Kamu saya cerai,” maupun dengan ungkapan kinayah (sindiran atau tidak langsung), seperti: “Saya pulangkan kamu ke rumah orang tuamu.”

Ungkapan kinayah membutuhkan kejelasan niat dari suami yang mengucapkannya. Jika ketika mengucapkan kalimat tersebut suami memang berniat dan bermaksud menceraikan istrinya, maka jatuh talak. Namun, jika tidak disertai niat talak dan memiliki maksud lain, maka talak tidak jatuh.

  1. Ucapan hati seperti yang Anda sampaikan di atas bukan termasuk kategori niat, tetapi masuk dalam kategori haditsun nafsi atau lintasan hati. Lintasan hati dapat muncul secara tiba-tiba tanpa bisa dikendalikan, lalu hilang begitu saja.

Adapun niat adalah kehendak dan tekad yang kuat untuk melakukan sesuatu. Jika lintasan hati ditindaklanjuti dengan tekad yang kuat dan kehendak yang disengaja, maka lintasan hati tersebut berubah menjadi niat.

  1. Was-was adalah perasaan ragu dan tidak yakin. Perasaan tersebut hanya bisa dilawan dengan ilmu dan keyakinan terhadap kebenaran. Sering kali seseorang menyadari bahwa dirinya sedang diliputi was-was atau keraguan, tetapi tidak berani melawannya dengan tegas karena kurangnya ilmu dan keyakinan.

Jika sudah disadari bahwa hal itu hanyalah was-was, maka abaikan dan jangan diikuti. Biarkan lintasan pikiran tersebut pergi dengan sendirinya.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc