Mertua Toxic Dan Pilih Kasih


Pertanyaan:

Assalammualaikum. Saya sudah berumah tangga selama 25 thn tetapi mertua dan ipar perempuan sy satu2nya tdk pernah suka dan setuju dgn sy, sering menyakiti dalam perkataan dan perbuatan sehingga sy kena mental tdk mau mudik ke kampung halaman suami tetapi ternyata itu hny wacana saja krn sy gak tega lht suami, tetapi yg membuat sy sangat2 sakit hati adalah saat ipar bilang di dpn semua klrga saat hari raya bahwa kerja dipabrik itu tdk mengandalkan kepintaran sambil ujung jarinya nunjuk2 ke dahi sampingnya sendiri, sehingga ank sy pun kena mentalnya jg tetapi di sini mertua perempuan sy malah membela anknya, yg disalahkan tetaplah sy krn katanya mertua bahwa sy pamer kepintaran ank lewat status(omongan ini mertua dpt dr ipar sy) padahal sy sama sekali tdk pernah membuat status ttng ank sy.... Pertanyaan sy suami kan tetap memberi uang bulanan ke ibunya padahal ibunya mampu dan itu yg membuat sy gak ikhlas krn ank sy jg kena mental, maksud sy itu ingin menghentikan uang bulanan ke mertua biar sadar akan kesalahan nya, krn meskipun sy berbuat baik pun tdk pernah ada kebaikan di mertua sy(yg tf sy, suami hny berkata tp sy yg jalaninnya) apakah berdosa jika tdk mau tf lagi mertua dan alasan apa yg tepat ke suami agar suami itu jg paham keinginan sy, mhn pencerahannya ?terimakasih



-- Dian Ningtias Suhardi (Sidoarjo)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.

Anda telah menjalani kehidupan rumah tangga selama 25 tahun. Waktu yang cukup panjang untuk mengenali karakter keluarga besar Anda, baik karakter mertua, ipar, maupun orang-orang yang berada di sekitar kehidupan Anda.

Setiap orang tentu berharap orang-orang di sekitarnya dapat memberikan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan. Tidak ada seorang pun yang ingin disakiti, terlebih jika perlakuan tersebut datang dari keluarga sendiri. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Kita tidak dapat mengatur dan memaksa orang lain agar bersikap sebagaimana yang kita inginkan. Hal itu merupakan sesuatu yang mustahil. Akan selalu ada orang yang membuat kita senang, dan akan selalu ada pula orang yang membuat kita kecewa atau kesal.

Ketika menghadapi lingkungan yang kurang menyenangkan, cobalah untuk lebih fokus pada kebahagiaan dan ketenangan diri sendiri. Jangan terlalu menghabiskan energi untuk memikirkan sikap orang lain yang menyakitkan hati. Tidak ada manfaatnya memaksa orang lain agar berubah sesuai keinginan kita. Ada benarnya pepatah yang mengatakan, "Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu." Artinya, jangan sampai sikap negatif orang lain menghalangi kita untuk tetap melangkah menjalani kehidupan dengan baik.

Jadikan perlakuan yang kurang menyenangkan dari orang lain sebagai sarana melatih kesabaran. Jika dihadapi dengan sabar dan ikhlas, insya Allah hal itu dapat menjadi penghapus dosa dan penambah pahala.

Jangan sampai rasa marah dan kecewa kepada mertua atau anggota keluarga lainnya membuat Anda menghentikan bantuan dan kebaikan yang selama ini Anda berikan. Sebab, tindakan tersebut justru dapat memperbesar jurang permusuhan dan memperpanjang rasa benci di antara sesama keluarga. Kemarahan tidak akan padam dengan kemarahan, sebagaimana api tidak akan padam dengan api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air. Demikian pula keburukan sering kali lebih mudah dilunakkan dengan kebaikan. Allah Ta'ala berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fushshilat: 34)

Karena itu, teruslah berbuat baik semampu Anda. Apabila orang-orang yang selama ini bersikap kurang baik melihat bahwa Anda tetap membalas keburukan dengan kebaikan, bukan tidak mungkin hati mereka akan luluh dan hubungan yang renggang akan kembali membaik. Memang hal itu membutuhkan waktu, tetapi kesabaran dan kebaikan tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc