Dalam pernikahan hasil perjodohan, saya sebagai pihak wanita belum menerima dengan rela menerima sepenuhnya pihak suami. saya inginnya kami saling mengenal dulu, membangun rasa saling aman, nyaman, terjalin komunikasi yang baik dan menentramkan. Baru kemudian sampai kepada Hubungan Fisik suami istri yang sehat. Namun, dia terus meminta dengan disampaikan dalam ajakannya berbagai hal menakutkan bagi saya. seperti, "Kalo tidak nuruti, dilaknat Alloh - Kalo ada makhluk yg boleh di sembah, ya suami atas Istrinya - percuma sholat, ngaji quran kalo ga taat sama suami, dst perkataan2 yg sejenisnya. itu membuat saya tertekan dan takut. Saya terpaksa melakukannya beberapa kali karena niat saya hanya Tunduk pada perintah ALLAH untuk menuruti keinginan suami. namun, ternyata Tidak ada perasaan senang sedikitpun saat melakukan hal tsb. sehingga saya mulai merasa dihantui dosa-dosa karena tidak tunduk pada suami. sampai akhirnya saya hamil, dan pada usia kehamilan saya 4 Bulan, suami saya meninggalkan rumah karena tidak ridho saya menolak ajakannya tsb. Yang saya tanyakan. "Bagimana pandangan paling objektif terhadap kasus saya, jika ditinjau dari berbagai ilmu, apakah keberadaan perasaan wanita tidak penting dalam menaati ajakan HS. kadang saya bertanya begini pun takut. karena pandangan saya, kebanyakan laki-laki pasti berpendapat "DOSA BESAR MENOLAK AJAKAN SUAMI" tanpa melihat sikonnya. terimakasih banyak
Demikian yang bisa disampaikan ,semoga bermanfaat. wallahu a’lam bishowab. (as)
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Hubungan suami dan istri adalah hubungan timbal balik, yaitu hubungan yang setara dan sejajar dalam hak serta kewajiban. Tidak ada pihak yang lebih dominan atau lebih tinggi dibandingkan yang lain. Apabila prinsip ini dipahami dengan baik oleh suami dan istri, maka berbagai bentuk kezaliman dalam rumah tangga dapat dihindari.
Allah SWT menjelaskan kewajiban suami secara umum, sementara kewajiban istri terhadap suami dijelaskan secara lebih rinci dalam banyak ayat dan hadits. Karena itu, sering kali suami lebih banyak membaca dan mengutip ayat atau hadits yang berkaitan dengan hak-haknya atas istri, seperti hak untuk ditaati dan dilayani. Namun, tidak sedikit suami yang kurang memberikan perhatian terhadap ayat dan hadits yang menjelaskan kewajibannya kepada istri. Padahal, apabila seorang suami lebih fokus pada pelaksanaan kewajibannya, ia tidak akan bersikap semena-mena terhadap istrinya.
Demikian pula seorang istri. Apabila ia lebih fokus menunaikan kewajibannya daripada menuntut hak-haknya, maka ia tidak akan berlebihan dalam menuntut sesuatu dari suaminya. Dengan demikian, kehidupan rumah tangga akan lebih harmonis dan penuh ketenangan.
Sayangnya, tidak jarang ayat dan hadits digunakan sebagai alat untuk menakut-nakuti pasangan, baik oleh suami kepada istri maupun oleh istri kepada suami. Padahal, ajaran Islam diturunkan untuk menghadirkan keadilan, kasih sayang, dan keseimbangan dalam kehidupan keluarga.
Apabila suami dan istri sama-sama berusaha menunaikan kewajibannya dengan baik, maka keduanya juga akan lebih proporsional dalam menuntut hak-haknya. Keseimbangan inilah yang menjadi kunci terwujudnya rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Perlu dipahami pula bahwa perempuan dalam Islam bukan sekadar objek bagi suaminya. Islam memuliakan perempuan sebagai manusia yang memiliki hak, kehormatan, dan kedudukan yang harus dihormati serta dijaga.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-shawab.
(as)