Permasalahan Rumah Tangga

Pernikahan & Keluarga, 21 Juli 2026

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum ustadz mohon maaf ijin bertanya. Saya telah melakukan banyak kesalahan dan dosa besar dalam hidup saya. Saya berhijrah 10 tahun lalu, saya belajar agama, memperbaiki diri, mulai berpakaiam syar'i, dll. Namun, 2 tahun kemudian setelah hijrah, saya terkena godaan oleh mantan pacar saya, saya pacaran lagi dengan mantan saya dan berzina lagi, tapi saat itu saya tetap menjaga solat. Lalu saya menikah dengan mantan saya itu, saya dan suami tobat lagi, memperbaiki diri lagi. Namun, saya mentoleransi sedikit demi sedikit dosa, seperti kerudung mulai memendek, solat di tunda tunda, mendengarkan musik lagi, lama lama sampe pake celana jeans lagi, terbawa oleh standar sosial media, dll. Puncaknya saya berselingkuh dengan pria lain sampai berzina. Saat ini kondisinya suami saya sudah mengetahui perselingkuhan saya itu. Saya benar-benar menyesal akan dosa besar saya itu, sekarang saya ingin memperbaiki diri lagi. Saya sudah ke psikolog, dan kata psikolog saya mudah terpengaruh oleh lingkungan. Makanya saat ini saya benar2 menutup diri, saya takut menghadapi dunia ini, yang saya lakukan hanya fokus belajar lagi, memperbaiki diri, hidup dalam penyesalan karna melakukan dosa besar itu lagi. Saya takut pada diri saya sendiri, saya takut terbawa oleh lingkungan buruk lagi, saya takut terjerumus dosa lagi, saya berusaha setiap hari untuk tidak melakukan hal hal yang Allah tidak sukai, hanya itu yang bisa saya lakukan saat ini, perbanyak amal soleh dan menjaga diri dan hati. Dulu saya ramah pada orang lain, seneng ngobrol sama orang, sekarang saya takut untuk ngobrol sama orang, saya takut ketemu lingkungan buruk lagi dan saya terbawa lingkungan buruk lagi. Bagaimana ustadz agar hijrah saya kali ini istiqomah, saya benar2 ingin mati dalam keadaan husnul khatimah dan mengahabiskan sisa umur ini jadi sebaikbaiknya wanita di sisi Allah. Dan bagaimana cara menghadapi kondisi rumah tangga yang tidak sama lagi, saat ini saya dan suami lebih banyak saling diam, suami saya sedang bingung apakah mau melanjutkan rumah tangga ini atau menceraikan saya, karna sudah hampir 1 tahun pasca suami saya tahu saya selingkuh, sepertinya rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan tidak berubah sejak awal. Penilaian suami saya terhadap saya pun sudah sangat berbeda, apapun yang saya lakukan jadi dicurigai, berbuat baik pun dicurigai niatnya apa, sepertinya suami saya selalu cemas dan merasa tidak aman hidup dengan saya. Saya hanya bisa melakukan yang terbaik yg bisa saya lakukan sebagai istri dan ibu, sisanya tidak berhenti berdoa pada Allah. Mohon pencerahannya ustadz. 



-- Hamba Allah (Bandung)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Perbuatan yang pernah Anda lakukan di masa lalu, yaitu berzina dengan laki-laki yang kemudian menjadi suami Anda, kemudian berselingkuh dan berzina lagi dengan laki-laki lain ketika Anda telah bersuami, merupakan dosa besar yang wajib disesali dan ditaubati dengan sebenar-benarnya.

Alhamdulillah, Anda telah berusaha menempuh jalan taubat dengan memperbanyak amal saleh, menuntut ilmu agama, serta melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki diri. Semoga Allah menerima taubat Anda dan mengampuni seluruh dosa yang telah lalu.

Namun demikian, taubat yang Anda lakukan tidak serta-merta menghilangkan dampak dari perbuatan tersebut terhadap hubungan dengan suami. Sejak sekitar satu tahun yang lalu, setelah suami mengetahui perselingkuhan dan perzinaan yang Anda lakukan, sikapnya berubah. Ia menjadi lebih mudah curiga, sering berprasangka buruk, bahkan terkadang mencurigai kebaikan yang Anda lakukan. Hal ini merupakan luka batin yang tidak mudah disembuhkan.

Beberapa hal berikut dapat Anda lakukan untuk menyempurnakan taubat sekaligus memperbaiki hubungan dengan suami.

  1. Luruskan niat dalam memperbaiki diri.

Jadikan seluruh usaha memperbaiki diri semata-mata karena mengharap ridha Allah, bukan semata-mata untuk mendapatkan kembali kepercayaan atau keridhaan manusia, termasuk suami. Orang yang beramal karena Allah akan memperoleh pertolongan dan kecintaan-Nya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan memerintahkan Jibril untuk mencintainya. Kemudian Jibril menyerukan kepada penduduk langit agar mereka mencintainya, lalu Allah menjadikan hamba tersebut diterima oleh penduduk bumi. Oleh karena itu, fokuslah mencari ridha Allah. Insya Allah, apabila Allah telah meridhai Anda, Dia akan membuka hati manusia, termasuk hati suami Anda.

  1. Berada di lingkungan yang baik.

Carilah lingkungan dan komunitas yang dapat mendukung proses hijrah dan perbaikan diri. Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keimanan dan akhlak seseorang. Lingkungan yang buruk akan mendorong seseorang kembali kepada kemaksiatan, sedangkan lingkungan yang baik akan menguatkannya dalam ketaatan.

Inilah salah satu hikmah dari kisah pembunuh seratus jiwa yang diperintahkan untuk meninggalkan kampung halamannya menuju negeri yang penduduknya saleh. Maksudnya bukan semata-mata berpindah tempat tinggal, tetapi meninggalkan lingkungan yang buruk menuju lingkungan yang mendukung ketaatan kepada Allah.

Apabila tidak memungkinkan untuk pindah tempat tinggal, maka tinggalkanlah pergaulan yang dapat menyeret kepada maksiat. Sebaliknya, bergabunglah dengan lingkungan yang baik, seperti majelis ilmu, kajian Islam, halaqah Al-Qur'an, atau komunitas yang anggotanya saling mengingatkan dalam kebaikan.

  1. Pahami luka yang dirasakan suami.

Cobalah memahami perubahan sikap suami. Perselingkuhan dan perzinaan yang dilakukan pasangan merupakan pukulan yang sangat berat bagi hati seseorang. Luka batin sering kali membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh dibandingkan luka fisik.

Cobalah membayangkan seandainya Andalah yang menjadi korban perselingkuhan suami. Tentu rasa sakit, kecewa, dan hilangnya kepercayaan tidak akan mudah hilang hanya dalam waktu singkat.

Karena itu, jangan terlalu kecewa apabila suami belum sepenuhnya bisa kembali seperti dahulu. Bersabarlah, teruslah memperbaiki diri, dan jangan memaksa suami untuk segera memulihkan kepercayaannya. Tugas Anda adalah terus menunjukkan perubahan yang nyata dan istiqamah. Seiring berjalannya waktu, insya Allah kepercayaan itu akan tumbuh kembali apabila suami benar-benar melihat kesungguhan Anda.

  1. Iringilah taubat dengan memperbanyak amal saleh.

Perbanyaklah amal saleh setelah bertaubat. Amal-amal kebaikan merupakan salah satu sebab dihapusnya dosa-dosa yang telah lalu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

"Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.'" (HR. At-Tirmidzi)

Teruslah memperbanyak ibadah, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, bersedekah, menjaga shalat berjamaah (bagi laki-laki), berbakti kepada orang tua, serta melakukan berbagai amal saleh lainnya. Semua itu merupakan bagian dari bukti kesungguhan taubat Anda.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima taubat Anda, mengampuni dosa-dosa yang telah lalu, memperbaiki hubungan Anda dengan suami, melembutkan hatinya, serta membangun kembali rumah tangga Anda di atas ketakwaan, kasih sayang, dan saling percaya.

Wallahu a'lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc