Menolak Ibu Mertua

Pernikahan & Keluarga, 1 September 2026

Pertanyaan:

Assalamualaikum, Problem yang saya alami adalah dengan ibu mertua. Bukan saya saja yang mengalami problem dengan ibu mertua tapi istri saya juga. Jadi ibu mertua saya ini punya 2 anak perempuan, suaminya menikah lagi. Maaf sebelumnya saya tidak membicarakan kejelekan ibu mertua saya, tapi ini harus diceritakan biar bisa sebab kenapa saya dan istri saya menolak nya. Ibu mertua saya ini sangat tidak adil pada ke dua anaknya, dia lebih sayang ke anak ke 2 nya daripada istri saya selaku anak pertama. Awal ibu mertua tinggal sama kami saat dia sakit, setelah sembuh dia minta pulang ke anak ke 2 nya, nanti kalau ada masalah dengan anak ke 2 nya dan sakit dia minta pulang ke rumah kami. Lama2 saya juga jengkel, seakan akan kami dimanfaatkan ketika dia sakit. Kalau sudah sembuh tidak mau tinggal dengan kami, dan ibu mertua saya suka banget menjelek²an anak2 nya kepada orang lain. Saat istri saya kecelakaan, kami minta tolong untuk tinggal di rumah sementara, biar ada yg merawat tapi jawabannya dia tidak mau. Akhirnya saya panggil orang luar dan saya bayari untuk merawat istri saya. Sekarang ibu mertua saya minta pulang ke rumah kami, karena ada masalah dengan anak ke 2 nya. Tapi saya dan istri menolak. Apakah kami berdosa ? 



-- Sofyan (Sidoarjo )

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Pada dasarnya, berbakti dan berbuat baik kepada orang tua adalah kewajiban seorang anak. Namun, kewajiban tersebut tidak berarti seorang anak harus selalu memenuhi setiap permintaan orang tua, terlebih jika permintaan itu menimbulkan mudarat atau menimbulkan masalah serius dalam rumah tangga. Allah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Dalam kasus Anda, persoalannya bukan sekadar “mau atau tidak mau menerima ibu mertua”, tetapi ada latar belakang masalah yang cukup panjang. Ibu mertua pernah tinggal bersama Anda ketika sakit, kemudian setelah sembuh memilih tinggal bersama anak keduanya. Ketika terjadi masalah dengan anak keduanya atau ketika sakit, beliau kembali meminta tinggal di rumah Anda. Bahkan ketika istri Anda mengalami kecelakaan dan membutuhkan bantuan, beliau tidak bersedia tinggal untuk merawatnya, sehingga Anda harus membayar orang lain untuk merawat istri.

Karena itu, jika saat ini Anda dan istri merasa tidak sanggup menerima beliau tinggal serumah karena khawatir masalah yang sama akan terus berulang dan mengganggu ketenangan rumah tangga, menolak beliau untuk tinggal bersama tidak otomatis menjadikan Anda berdosa, selama penolakan tersebut disampaikan dengan cara yang baik dan tidak disertai penghinaan, menyakiti, atau menelantarkan beliau. Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Yang perlu dibedakan adalah antara menolak tinggal serumah dengan memutus hubungan atau menelantarkan ibu. Anda dan istri boleh menentukan batasan agar rumah tangga tetap tenang, tetapi tetap berusaha berbuat baik kepada ibu mertua. Misalnya dengan membantu kebutuhan beliau sesuai kemampuan, menjenguk ketika sakit, berkomunikasi dengan baik, atau mencarikan solusi tempat tinggal dan perawatan yang lebih sesuai.

Adapun sebagai menantu, Anda tidak memiliki kewajiban yang sama seperti kewajiban seorang anak kandung kepada orang tua. Tanggung jawab utama berbakti kepada ibu mertua berada pada anak-anaknya, termasuk istri Anda. Karena itu, apabila ibu mertua membutuhkan tempat tinggal, sebaiknya persoalan tersebut dimusyawarahkan bersama kedua anaknya agar tanggung jawab tidak hanya dibebankan kepada satu anak.

Demikian yang bisa disampaikan. semoga bermanfaat. wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc