Pertanyaan:
Assalamu'alaikum Ustadz. Saya seorang ibu yang ingin meminta nasihat berdasarkan Al-Qur'an dan hadis sahih.
Saya memiliki dua anak perempuan yang tidak tinggal serumah dengan saya. Anak pertama sedang mengikuti tes terakhir untuk mengikuti training di perusahaan besar selama sekitar 2 tahun dan setelahnya ada ikatan dinas di Lampung. Kesempatan ini baik untuk masa depan dan kariernya, tetapi saya sedang dilema.
Saat ini anak pertama masih sering menunda shalat dan perlu diingatkan. Anak kedua masih SMP dan shalatnya juga sering bolong serta sulit merespons ketika diingatkan. Selama ini saya masih meminta kakaknya membantu membangunkan dan mengingatkan adiknya melalui telepon. Jika kakaknya tinggal jauh di Lampung dan semakin sibuk, saya khawatir saya akan semakin sulit membimbing keduanya dalam urusan shalat.
Saya tidak menolak anak saya sukses. Namun bagi saya, hubungan dengan Allah dan keselamatan akhirat lebih utama daripada keberhasilan dunia.
Menurut Al-Qur'an dan hadis sahih, bagaimana seharusnya saya mengambil keputusan? Apakah saya boleh mempertimbangkan bahwa pekerjaan tersebut dapat membuat saya lebih sulit membimbing agama kedua anak saya? Apakah saya sebaiknya mendukung kesempatan tersebut atau lebih mengutamakan kondisi agama anak-anak terlebih dahulu?
Bagaimana saya menyampaikan kepada anak saya jika dia tetap ingin mengikuti training tersebut?
Saya mohon nasihat berdasarkan dalil, bukan sekadar pendapat pribadi. Jazakumullahu khairan.
--
Elis (Surabaya )
Jawaban:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Kepedulian Ibu terhadap urusan shalat dan akhirat anak-anak adalah cerminan dari iman dan tanggung jawab yang luar biasa sebagai seorang ibu. Di era modern ini, menjaga agama anak merupakan perjuangan besar, dan keraguan Ibu adalah hal yang sangat wajar serta mulia di mata Allah.
Berikut adalah tuntunan berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits Shahih untuk membantu Ibu mengambil keputusan:
1). Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Agama Anak
Dalam Islam, menjaga agama anak adalah kewajiban utama yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
- Al-Qur'an Surah At-Tahrim ayat 6:
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
-
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..."
- Hadis Sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ: الإمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمرأةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا،
-
Nabi Muhammad bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya... dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya."
Kesimpulan Hukum: Ibu sangat boleh (bahkan wajib) mempertimbangkan dampak sebuah pekerjaan terhadap kondisi agama dan shalat anak-anak. Menjadikan kelancaran ibadah sebagai parameter utama dalam memilih pekerjaan bukanlah hal yang kolot, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah.
2). Memilih Antara Karier Dunia dan Penjagaan Agama
Ketika dihadapkan pada pilihan antara peluang dunia yang besar dan potensi penurunan kualitas ibadah, Islam memberikan kaidah untuk mendahulukan akhirat.
- Keutamaan Shalat sebagai Penentu Amal:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
- إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
- "Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka beruntung dan sukseslah ia. Dan jika shalatnya rusak, maka kecewa dan rugilah ia." (HR. At-Tirmidzi, Hadis Hasan Sahih).
- Janji Allah bagi yang Bertakwa:
Jika Ibu atau anak melepaskan suatu kesempatan dunia demi menjaga agama, Allah berjanji dalam Surah At-Talaq ayat 2-3 yang artinya :
"...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya..."
- Kaidah Hadits yangb artinya : "Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah 'Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik baginya." (HR. Ahmad, Sahih).
3). Cara Mengambil Keputusan dan Menyampaikannya kepada Anak
Ibu tidak perlu langsung melarang dengan keras, melainkan mengajaknya berpikir secara mendalam dan melibatkan Allah. Berikut langkah-langkahnya:
A. Ajak Anak Menguji Komitmen Shalatnya (Sebagai Syarat)
Sebelum menolak atau menerima, buatlah perjanjian (komitmen) tertulis atau lisan dengan anak pertama. Katakan bahwa syarat mutlak restu Ibu adalah perbaikan shalatnya sekarang juga, sebelum dia berangkat.
- Jika di rumah saja dia masih menunda shalat saat diingatkan, maka di dunia kerja yang penuh tekanan dan tanpa pengawasan, kondisinya dikhawatirkan akan memburuk. Rasulullah SAW bersabda: "Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir." (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Sahih). Ini menunjukkan betapa tegasnya batas shalat dalam Islam.
B. Cara Menyampaikannya dengan Lembut (Hikmah)
Gunakan pendekatan dialogis sesuai Surah An-Nahl ayat 125 ("Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..."). Ibu bisa menyampaikan seperti ini:
"Kak, Ibu sangat bangga dengan prestasi dan kelulusanmu di tes ini. Ibu ingin kamu sukses. Namun, sebagai ibu, tugas terbesar Ibu di hadapan Allah adalah memastikan kamu selamat di akhirat. Saat ini, shalatmu masih sering tertunda, dan Ibu khawatir jika kamu jauh di Lampung dengan kesibukan training yang padat, shalatmu akan semakin tercecer. Ibu minta, buktikan dulu kepada Ibu dan Allah dalam 1-2 minggu ini bahwa kamu bisa disiplin shalat tepat waktu tanpa ditunda. Jika kamu bisa konsisten, Ibu akan lebih tenang melepasmu. Tapi jika tidak, mari kita cari peluang kerja lain yang lebih aman untuk agamamu, karena ridha Allah dan shalatmu adalah kunci rezeki yang sesungguhnya."
C. Lakukan Shalat Istikharah Bersama
Mintalah anak pertama untuk shalat Istikharah, dan Ibu pun melakukannya. Rasulullah shallallahu 'alaihin wa sallam mengajarkan kita untuk beristikharah dalam semua urusan (HR. Bukhari). Biarkan Allah yang menggerakkan hatinya. Jika pekerjaan itu buruk untuk agamanya, mohonkan agar Allah memalingkan anak tersebut dengan cara yang baik.
4. Solusi untuk Anak Kedua (SMP)
Mengenai anak kedua, tugas membimbing tidak bisa didelegasikan sepenuhnya kepada kakaknya (terutama via telepon). Ibu adalah figur utama.
- Surah Thaha ayat 132 yang artinya : "Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabarlah kamu dalam mengerjakannya..."
- Ayat ini menggunakan kata "washthobir" (bersabarlah dengan kesabaran yang ekstra). Mengingatkan anak SMP memang butuh strategi: kurangi omelan, perbanyak pelukan, berikan reward (hadiah) jika dia rajin, dan yang terpenting adalah keteladanan dan doa di sepertiga malam.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taigfiq dan ridho-Nya. Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA